Minggu, 05 April 2020

Workshop perakitan solar panel yg agak besar

Tanggal 15-20 Maret 2020, Shanti pergi ke Desa Ngarak, Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak, Kalimantan barat untuk memberikan pelatihan pembuatan lampu solar Panel ukuran besar.
Ini adalah pelatihan ke 2 di tempat tersebut setelah pada tahun lalu, Shanti melatih mereka membuat lampu ukuran kecil untuk keperluan penerangan dalam rumah, pergi ke kebun maupun aktivitas lainnya.

Tim berkoordinasi dengan IP3 sebagai koordinator kegiatan. Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan tambahan pengetahuan dan skill kepada peserta (khusunya peserta yang pernah dilatih terdahulu) agar mampu merakit dan memperbaiki lampu solar panel sendiri, merakit yang lebih besar, bahkan bisa dijadikan sumber pendapatan dengan cara dijual kepada masyarakat yang membutuhkan. Aktivitas ini akan berhenti apabila tidak dilanjutkan dalam bentuk bisnis.

Kegiatan dilakukan selama 3 hari di lokasi PPMT (Pusat Pengendalian Misi Terpadu)  Ngarak. Dengan pengetahuan dan ketrampilan untuk merangkai sistim panel surya yang lebih besar, diharapkan peserta dapat memulai bisnis lampu surya secara berkelompok.

Saat pelatihan selesai, solar panel beserta lampunya sudah terpasang dan berfungsi. Yang dibutuhkan selanjutnya adalah perawatan terhadap solar panel dan lampunya. Dua peserta sudah mulai mengembangkan sendiri lampu sederhana versi pribadi.


Peserta sedang menyiapkan lampu

Lampu beserta reflektor buatan sendiri

Peserta menyiapkan dudukan panel

Peserta menyolder sel surya

Peserta memasang sel surya ke panel

Menyiapkan penutup panel surya

Merangkai kabel-kabel

panel surya dan box panel sudah siap

memasang panel surya ke atas tiang

Memasang tiang beserta panel surya ke pondasi

Keseluruhan sistim sudah
selesai dipasang

Sudah menyala otomatis
dimalam hari

Hasil kreasi peserta setelah workshop

Hasil kreasi peserta lain setelah workshop



Sabtu, 07 Maret 2020

Kelanjutan kegiatan solar panel

Lampu solar panel sederhana mulai diedarkan kepada yang membutuhkan. Saat laporan ini ditulis, sudah empat buah lampu yang diedarkan. Shanti masih menunggu feedback dari para pengguna lampu tersebut.
Salah satu pengguna memberikan foto perbandingan antara lampu hasil produksi Shanti dengan lampu listrik. Terlihat dengan lampu 1 watt, hasilnya lumayan terang, dan akan berguna pada situasi atau dilokasi yang tidak memiliki listrik.

Selain itu, Shanti sedang memppersiapkan dan berkoordinasi dengan Kalbar untuk pelatihan merangkai solar panel berukuran lebih besar. Pada tanggal 17 – 19 MAret 2020, Shanti berencana untuk mengunjungi kecamatan mandor di Kalimantan Barat untuk memberikan pelatihan tentang merangkai solar panel berukuran lebih besar.


Sebuah ruangan dengan lampu
LED listrik 18 watt

Ruangan yang sama dengan
lampu Shanti 1 Watt

Senin, 10 Februari 2020

Perkembangan belajar solar panel

Mengerjakan solar panel berukuran 250 x 110 cm ternyata membutuhkan waktu yang lebih lama dari yang diperkirakan. Shanti mencoba menggunakan lembaran EVA (ethylene vinyl acetate) untuk melindungi solar cell. Lembaran ini digunakan pada solar panel yang dijual ditoko-toko. Ketika dipanaskan dengan menggunakan heat gun, lembaran ini akan mencair sehingga seperti melaminating solar sel.
   
Walaupun begitu, ternyata tidak mudah untuk melakukannya. Hasil akhirnya kurang memuaskan karena masih banyak gelembung udara yang terperangkap. Alternatif lain untuk melindungi solar cell adalah dengan menyemprotkan cat akrilik bening. Cara ini lebih murah dan mudah dibandingkan dengan menggunakan EVA. Memang penggunaan EVA akan jauh lebih tahan lama dibandingkan dengan cat akrilik.

Saat laporan ini ditulis, solar cell berukuran besar tersebut sudah selesai dipasang pada dudukannya, dan sudah selesai dilapisi dengan EVA. Harga panel berukuran sama yang dijual ditoko kurang lebih adalah Rp. 3 juta lebih, sementara panel yang dibuat Shanti berharga sekitar Rp. 1 juta rupiah lebih.

Untuk lampu solar panel sederhana, shanti sudah selesai menghasilkan total lebih dari 20 buah. Ketika laporan ini ditulis, Shanti masih dalam proses menyelesaikan sekitar 10 buah lampu lagi. Seiring dengan proses pembuatan lampu ini, Shanti belajar banyak hal karena beberapa  masalah terjadi tanpa diduga. Hasil produksinya juga makin lama makin membaik.

Disaat yang sama, Shanti juga mencoba bereksperimen dengan membuat lampu menggunakan wadah botol bekas. Hasilnya cukup baik. Walaupun begitu, proses menggunakan wadah botol bekas ini tidak mudah. Saat ini hanya diproduksi satu buah sebagai contoh. Bila masyarakat tertarik, akan dibuat lebih banyak lagi.

Selain itu, Shanti akan bereksperimen dengan membuat charger HP dan lampu menggunakan modul kecil yang dapat dihubungkan dengan aki biasa. Modul tersebut tinggal dihubungkan ke aki, dan dapat langsung menggunakan 2 buah colokan USB yang tersedia. Akan disediakan 1 buah lampu ukuran 1 watt yang juga tinggal dicolokkan ke USB. Shanti akan mencoba membuat 10 set dan melihat respon masyarakat. Selain untuk lampu dan charge HP, modul ini juga bisa untuk menyalakan Raspberry pi beserta monitor DC nya.

Lampu sederhana dan charger HP hasil karya Shanti tersebut diatas berharga murah dan akan diuji coba dilapangan dan melihat minat dari masyarakat. Hasilnya akan digunakan untuk menentukan langkah selanjutnya.



Lapisan EVA sedang dipanaskan

Mencoba menggunakan botol bekas untuk
wadah lampu

Hasil produksi lampu solar panel sederhana

Modul charger HP yang akan dicoba

Rabu, 15 Januari 2020

Eksperiman dengan solar panel ukuran lebih besar

Shanti sedang bereksperimen dengan solar panel dengan ukuran lebih besar. Solar cell yang digunakan berukuran 6 x 6 inchi. Jauh lebih besar dari solar cell yang digunakan untuk lampu sederhana (52 x 26cm). 80 solar cell yang besar ini akan dilindungi dengan lapisan EVA, dan lalu dipasang diatas lembaran triplek. Lapisan EVA ini harusnya dapat melindungi solar cell dalam jangka waktu yang sangat lama.

Keseluruhan panel menggunakan dudukan 1 keping triplek tebal 4mm. Rangka dibuat dari besi hollow tebal 0.5mm. Saat laporan ini ditulis, Solar cell sudah sebagian besar dirangkai, dudukan panel sudah selesai. Tinggal menunggu beberapa barang supaya solar cell dapat dipasang, terutama lapisan EVA yang akan dicoba untuk melindungi solar cell.

Diharapkan, diwaktu yang akan datang, Shanti mempunyai pengetahuan, ketrampilan, dan pengalaman untuk membuat solar panel kecil hingga besar.


Perbandingan Solar cell 6x6 inchi dengan
yang digunakan untuk lampu sederhana (26x52mm)

Satu lembar triplek yang akan
menjadi dudukan solar panel

Solar cell 6x6 inchi sedang dirangkai

Selasa, 10 Desember 2019

Kongres memanen air hujan ke 2

Pada tanggal 26 – 30 November 2019, Shanti ikut hadir pada kongres memanen air hujan ke 2 di Yogyakarta. Tujuannya untuk mengetahui apa saja yang sudah dilakukan pihak lain terhadap air hujan, juga untuk melihat kemungkinan – kemungkinan yang bisa digunakan dilapangan, terutama didaerah yang mempunyai masalah dengan ketersediaan air.


Cukup banyak yang dipelajari selama kongres ini:
  • Air hujan diindonesia sebenarnya sangat melimpah namun masih belum dimanfaatkan dengan baik. Prinsip utama dari pemanenan air hujan adalah dengan metode TRAP (Tampung, Resapkan, Alirkan dan Pelihara)
  • Kualitas Air hujan di indonesia sangat baik dan rendah kontaminan oleh karena itu wadahnya pengalir/penampungnya harus bersih agar tidak terkontaminasi. Walaupun begitu, ada penelitian yang menemukan bakteri E. Coli di tempat penampungan air hujan, saluran air hujan, maupun air hujannya sendiri. Sehingga bila ingin diterapkan, sebaiknya dites terlebih dahulu. Dan sebelum diminum, lebih baik dimasak terlebih dahulu.
  • Daerah yg rakus air adalah daerah urban. Tantangannya adalah menemukan lokasi dan ruang utk PAH di wilayah yg sempit. Sementara daerah hotel & perkantoran bisa mulai, namun tetap perlu ide desain apa yg tidak mengganggu keindahan dan juga faktor biaya (return of investment) untuk PAH
  • Walaupun dianggap bahwa daerah pedesaan/rural sdh selesai, tetapi dari proses pemetaan berbagai lembaga, kebutuhan air bersih masih sangat tinggi dan daerah pedesaan sangat membutuhkan inovasi dan teknologi termasuk pemanenan air hujan. Daerah-daerah dengan curah hujan rendah di Indonesia Timur sangat memerlukan tehnologi tepat guna untuk memanfaatkan air hujan dengan efisien dan efektif.
  • Teknologi pemanfaatan air hujan sebenarnya tidak sulit namun costnya masih besar. Contohnya, PAH buatan UGM (yang dijelaskan diatas), 1 set berharga sekitar Rp. 3 juta. Dan ini masih mahal bagi masyarakat.
  • Beberapa daerah telah berhasil menjalankan program pemanenan air hujan dengan menggunakan dana desa
  • Sumur resapan dan biopori sangat efektif dan efisien dalam mengatasi erosi, banjir maupun genangan air berlebih. Walaupun begitu, air yang dimasukkan kedalam tanah harus sudah bersih. Jangan memasukkan air kotor kedalam tanah.
  • Air hujan juga bisa digunakan untuk budidaya tanaman hydroponik
  • Metode penampungan air dengan Semen/Bak/Absah bisa menambah mineral air (terutama kalsium) dan tepat untuk digunakan di daerah yang kurang mineral.
  • Metode penampungan air hujan bisa digunakan untuk pertanian. Embung dapat digunakan untuk pertanian skala besar. Rekayasa kontur tanah bisa dilakukan untuk menampung air hujan didalam tanah.
  • Air hujan yang sudah melewati proses elektrolisis akan terpisah menjadi dua, yang bersifat asam dan basa.
           Air yang bersifat basa baik untuk diminum karena dapat membawa nutrisi lebih banyak dan dapat mengeluarkan toksin dari sel-sel badan. Ukuran molekulnya menjadi sangat kecil sehingga lebih lancar ketika melewati sel badan.
           Air yang bersifat asam bisa digunakan untuk pupuk setelah difermentasi dengan lumut,kapur dll. Air yang bersifat asam ini juga bisa diolah dan dijadikan obat tetes mata.


Suasana kongres

Alat PAH desain UGM

Peserta diberi kesempatan merangkai
PAH mini

Alat katalisator air

Bor tanah untuk biopori

Alat Biopori (posisi terbalik),
ditanam kedalam tanah

Susunan Hidroponik

Tanah liat yang di press untuk dinding.
Hasil pengalaman dari suster Susi Pi


Kamis, 14 November 2019

Desain lampu solar sederhana

Pada bulan Oktober, Shanti menghabiskan banyak waktu untuk bereksperimen dengan desain-desain lampu solar sederhana. Dari percobaan-percobaan yang dilakukan, akhirnya mengerucut pada sebuah desain. Desain ini memberikan fasilitas lampu 1 watt dan dapat mengisi batere telpon genggam.

Lampu ini menggunakan solar cell yang sama ketika pelatihan, diletakkan diatas triplek dengan ketebalan 4mm, berukuran 31x8,5 cm. perubahan signifikan terjadi pada pengaturan letak komponen-komponen elektroniknya.

Switch hanya menggunakan 3 buah (1 untuk charge matahari, 1 untuk charge HP, dan 1 untuk lampu. Lampu yang digunakan adalah 2 buah lampu LED 5730. Komponen-komponen listrik tersebut diletakkan sedemikian rupa sehingga hanya membutuhkan ruang yang kecil, lalu direndam dengan resin.

Setelah ini, Shanti akan membuat sekitar 20-30 lampu yang sama, yang akan dicoba dijual dimasyarakat yang membutuhkan. Harga jualnya sekitar Rp.70.000 - 75.000 tanpa baterai. Baterai 18650 yang dipakai berharga sekitar Rp. 15.000. Pembeli bisa memilih untuk membeli lampu tanpa baterai (baterai beli sendiri) atau dengan baterai.

Selanjutnya, Shanti akan mencari desain kedua, yang menggunakan botol-botol plastik bekas.



Desain paling awal

Komponen listrik masih membutuhkan
ruang cukup besar

Desain terakhir - tampak atas

Desain terakhir - tampak samping




Kamis, 03 Oktober 2019

Presentasi di Nias Selatan

Pada tanggal 19 - 21 September 2019, Shanti kembali ke Nias Selatan untuk mengikuti kegiatan Lokakarya Penutupan Proyek TB Nias Selatan. Pada acara ini, Shanti memberikan presentasi hasil riset operasional pada bulan mei lalu tentang dampak program yang dilakukan oleh WVI terhadap kasus penyakit TBC anak di Kabupaten Nias Selatan periode Oktober 2015 - September 2019.

Riset operasional tersebut dilakukan dengan mengumpulkan data kualitatif dan kuantitatif. Data kuantitatif diambil dari laporan-laporan yang ada, sementara data kualitatif diambil dengan melakukan wawancara pada pihak-pihak terkait program TBC seperti Puskesmas, Kader, Dinas kesehatan, internal WVI dan relasi lain. Informasi kualitatif selanjutnya dianalisa dengan metode Realist.


Anggota tim sedang menjawab pertanyaan

Salah satu peserta sedang bertanya

Salah satu dokter puskesmas ikut menjelaskan

Seluruh peserta yang hadir