Rabu, 08 September 2021

Pengalaman pertama memelihara kucing

Seperti diketahui, Shanti mempunyai tiga ekor kucing yang dipelihara dikantor. Kucing-kucing ini datang ke kantor ketika masih kecil dan tidak dapat mencari makanan sendiri. Sehingga akhirnya dipelihara daripada mati kelaparan.

Dua dari kucing tersebut sudah disterilisasi. Bulan ini, satu ekor kucing dikirim ke pet shop untuk sterilisasi. Kami mengira kucing ini adalah kucing betina. Ternyata pet shop memberitahukan bahwa kucing ini adalah jantan dan sudah disterilisasi, sehingga dikirim kembali setelah menginap 2 malam.

Bulan ini ada seekor anak kucing baru yang masuk kekantor, dalam kondisi pilek berat disertai sesak nafas dan kurus kurang gizi. Akhirnya dipelihara dikantor, dan seminggu pertama harus diberi antibiotika. Karena tidak bisa makan sendiri, akhirnya harus diberi makan dengan menggunakan spuit. Setelah sembuh dari sakit, kucing ini sudah bisa makan sendiri.

Shanti membawa keempat ekor kucing ke dokter hewan untuk vaksinasi. Pada saat laporan ini ditulis, semua kucing sudah divaksinasi untuk beberapa jenis virus yang menyebabkan pilek. Bulan depan semua divaksinasi lagi untuk rabies. Semoga semuanya tetap sehat.

Kami masih harus banyak belajar tentang cara memelihara kucing. Bahkan kami masih salah mendeteksi jenis kelamin kucing. Kami juga belajar bahwa ternyata kucing-kucing sangat rentan terhadap penyakit, dan mudah tertular penyakit dari kucing lain. 


Dua ekor kucing pertama kami
Setelah dipelihara sekitar 6 bulan

Lalu datang kucing kuning jantan

Kucing terakhir yang datang
dalam kondisi yang kurang baik

 

Senin, 09 Agustus 2021

Mencoba 5730 kuning untuk Lampu Hama

Situasi Covid 19 yang masih belum terkontrol memaksa dilakukan PPKM sehingga tidak memungkinkan bagi Shanti untuk bekerja dilapangan. Situasi ini sangat tidak menyenangkan, tetapi memang perlu dilakukan supaya kondisi Covid 19 dapat dikontrol.

Shanti masih meneruskan uji coba dengan menggunakan jenis lampu yang berbeda. Kali ini dengan lampu LED 5730 yang berwarna kuning. 
 
Lampu LED ini hanya membutuhkan daya sebesar 0,5 watt. 1 buah lampu LED digunakan, dan ternyata hanya membutuhkan 1 buah baterai 18650. Hasil yang didapatkan cukup terang, walaupun begitu harus dilakukan uji coba dilapangan.

Sehingga saat ini, Shanti mempunyai empat prototipe lampu hama yang menggunakan 4 buah lampu berbeda. Yaitu lampu LED UV 1 watt, lampu LED 5730 warna putih, lampu LED 5730 warna kuning, serta lampu LED kecil UV.

Semua prototype tersebut harus di uji coba dilapangan, dengan cara melihat hasil tangkapan serangga yang didapatkan. Lampu dengan hasil tangkapan serangga terbanyak menjadi tipe yang terbaik untuk digunakan. Sayangnya hingga laporan ini ditulis, Shanti masih belum dapat mencobanya dilapangan karena situasi covid 19 yang belum membaik.


Lampu LED 5730 warna kuning

Menyala cukup terang

 

 

 

Kamis, 08 Juli 2021

Revisi desain Lampu Hama

Kami melakukan tes terhadap lampu hama yang terdahulu dan menemukan beberapa hal yang harus diperbaiki. 

Pada saat awal, kami menggunakan lampu LED 1 watt hpl. dan ternyata lampu ini sebenarnya adalah 1,6watt. Sehingga baterai menjadi lebih cepat habis. Lampu sudah dimodifikasi dengan menggunakan lampu LED yang kecil. Percobaan pertama menggunakan dua buah lampu LED. Hasilnya, lampu berhasil menyala semalaman. Namun sinarnya jauh lebih redup daripada menggunakan lampu yang lama. 

Percobaan kedua dengan menggunakan empat buah lampu LED yang sama, sinarnya hampir mirip dengan lampu LED yang 1 watt. Walaupun begitu, setelah beberapa hari dilakukan tes, beberapa lampu LED menjadi redup. Kemungkinan besar karena empat buah lampu LED tersebut dihubungkan secara parallel tanpa menggunakan resistor untuk menjaga besar arus yang meliwatinya. Sehingga lampu LED menjadi rusak. Tetapi bila harus menggunakan resistor, akan membuat rangkaian menjadi lebih rumit. 

Shanti masih akan mencoba menggunakan lampu LED jenis yang berbeda untuk mencari kemungkinan terbaik dan termurah. 

Kami menemukan bahwa penggunaan 2 baterai tipe 18650 adalah pilihan yang terbaik. Penggunaan 1 buah baterai tersebut membuat tidak cukup untuk menyalakan lampu selama 12jam. Dan karena menggunakan 2 buah baterai, maka solar panel yang lama menjadi kurang besar untuk mengisi kedua buah baterai.

Solar panel sudah diganti dengan yang lebih besar, membuat pengisian dua buah baterai 18650 menjadi jauh lebih cepat. Kapasitas solar panel ini (4,6 watt) dua kali lipat dari yang terdahulu. Sehingga, pilihan untuk solar panel ini nampaknya sudah yang paling baik. 

Hal-hal yang masih harus diperbaiki: 

  • Jenis lampu masih harus dicari yang optimal. 
  • Masih harus dilakukan tes dilapangan dengan menggunakan beberapa warna lampu. Sehingga diketahui warna lampu yang paling memikat untuk serangga. 
  • Penggunaan bahan-bahan yang lebiih murah untuk rangka lampu. 

 


Uji coba dengan 2 buah lampu LED

Uji coba dengan 4 buah lampu LED

Solar panel yang lebih besar

 

Senin, 07 Juni 2021

Uji Coba Power Bank

Oleh karena rencana ke kalbar ditunda, Shanti mencoba untuk membuat power bank. Ide ini didapatkan dari teman di Kupang, ketika listrik mati diseluruh kota Kupang. Kejadian ini berkaitan dengan topan Seroja beberapa waktu lalu, yang merusak jaringan listrik di kota Kupang.

Power bank dibuat dari kumpulan baterai lithium 18650, Shanti mencoba membuat dengan menggunakan 18 buah baterai.

Enam buah baterai disusun parallel, sehingga menjadi tiga buah rangkaian yang masing-masing terdiri dari 6 buah baterai. Ketiganya lalu disusun secara serial. Baterai-baterai ini disusun dengan menggunakan braket berukuran 3 x 6 baterai. Masing-masing baterai ini menghasilkan 3,7 volt dengan daya 6.800 mAH.

Sebuah modul BMS (Batery Management System) 3S 12V digunakan untuk  mengatur proses pemakaian dan pengisian baterai – baterai ini. BMS ini sanggup menangani arus sebesar 60 ampere.

Sebuah volt meter yang terdapat slot USB digunakan untuk menampilkan kapasitas baterai. Melalui slot USB tersebut, power bank ini dapat digunakan untuk mengisi baterai HP. Power bank ini juga dapat digunakan untuk menyalakan beban yang membutuhkan listrik DC 12 volt.

Teoritis, power bank ini mempunyai kapasitas 40.000 mAH. Dengan kapasitas sebesar ini, seharusnya dapat mengisi baterai beberapa telpon genggam.



Tampilan power bank
dari samping

Tampilan power bank
dari atas

Power bank setelah dicharge
dengan charger aki biasa

Lampu led 12v




Sabtu, 08 Mei 2021

Prototipe Lampu Hama

Shanti menindak lanjuti rencana yang didapatkan dari Bojonegoro, yaitu membuat prototype lampu hama. Lampu Hama ini sudah dipakai oleh banyak petani, di sawah maupun di kebun, untuk mengurangi dampak hama serangga pada hasil pertanian.

Biasanya petani menggunakan listrik PLN untuk menyalakan lampunya. Oleh karena menggunakan kabel listrik yang panjang, sehingga sering terjadi kerusakan pada kabelnya, dan dalam beberapa kasus, orang yang melewati kabel terkena listrik dan meninggal.

Dengan menggunakan lampu solar panel, tidak dibutuhkan listrik PLN dan tidak menggunakan kabel listrik yang panjang. Sehingga diharapkan lampu masih berfungsi untuk mengatasi hama serta tidak berbahaya bagi lingkungannya.

Penggunaan lampu hama ini sebenarnya sederhana. Ada sebuah lampu yang dinyalakan sesudah matahari terbenam, lalu diletakkan wadah air dibawahnya. Sehingga serangga tertarik dengan lampu, terbang mengitari lampu dan akhirnya masuk kedalam wadah air. Makin luas lahan  pertanian, maka makin banyak lampu yang dibutuhkan.

Ketika laporan ini ditulis, prototipe sedang dalam proses penyelesaian. Apabila sudah selesai, maka akan diuji coba dilapangan. Shanti menggunakan pipa aluminium dan pelat aluminium sebagai rangka lampu. Lalu solar panel ditempatkan dibagian atas, peralatan lainnya diletakkan dibagian bawah.


Nyala lampu diatur oleh sensor cahaya

Menggunakan 2 baterai 18650

Menggunakan rangka dari pipa dan plat aluminium

Solar panel pada bagian atas

Peralatan elektroniknya sederhana

Menggunakan lampu LED 1 watt UV, dilindungi dengan botol bekas


Rabu, 14 April 2021

Pelatihan merakit lampu solar sel sederhana di Bojonegoro

Pada tanggal 4 sampai 7 April 2021, Shanti pergi ke Bojonegoro, Jawa Timur untuk memberikan pelatihan merangkai Lampu Solar Sel sederhana di desa Ngujung, Kecamatan Temayang. Pelatihan ini diadakan oleh pemerintah Desa Ngujung dan Forum Studi Pengembangan Potensi Daerah (Fospora) bekerja sama dengan Shanti sebagai tim pelatih.

Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan ketrampilan dan pengetahuan kepada peserta untuk dapat merakit lampu solar panel sendiri. Akses listrik di desa Ngujung sendiri sebenarnya mencukupi, dimana jarang sekali ada pemadaman listrik atau masalah penerangan lainnya, namun pelatihan ini lebih ditujukan ke arah ekonomi peserta sehingga jika dapat membuat produk lampu sendiri maka dapat dijual untuk menambah pendapatan mereka.

Para peserta menyolder solar sel mereka masing-masing. Ada yang berkelompok dan ada yang mengerjakan sendiri. Tingkat kerapihan pun berbeda-beda dan beberapa diantaranya memecahkan solar sel yang disolder namun junlahnya tidak banyak. Proses ini adalah yang paling sulit dalam merangkai solar sel, sehingga harus dilakukan lebih hati-hati.

Setelah selesai menyolder kepingan solar sel, Shanti mengajarkan peserta memeriksa volt yang dihasilkan menggunakan test meter, apakah sudah sesuai atau tidak, jika belum sesuai maka pasti ada sel yang rusak atau solderannya tidak baik.Sehingga harus dicari sel yang bermasalah tersebut.

Beberapa peserta mengalami hal tersebut dan kemudian memperbaiki solderan atau sel yang rusak akibat kesalahan menyolder. Tingkat kecepatan peserta pun berbeda-beda, ada yang masih sementara menyolder rangkaian kepingan sel, dan beberapa diantaranya yang mengerjakan lebih cepat sudah selesai dan bisa langsung ke step berikutnya.

Pada akhir hari kedua, dilakukan diskusi tentang cara membuat desain lampu sendiri. Dimulai dari beban yang akan dinyalakan, ukuran aki/baterai, hingga jumlah solar sel yang dibutuhkan.

Semua peserta akhirnya bisa menyelesaikan lampu solar sel sederhana mereka masing-masing. Masing-masing peserta membawa pulang hasil karyanya.

Beberapa rencana dibuat oleh desa Ngujung sebagai tindak lanjut dari pelatihan. Kemungkinan tindak lanjutnya adalah membuat lampu hama untuk dikebun, serta lampu penerangan untuk lapangan sepak bola di desa tersebut.

 



Proses pembukaan acara

Peserta pelatihan

Menjelaskan solar sel

Peserta sedang mendengarkan penjelasan

Peserta sedang memasang penutup panel

Panel sudah tertutup

Bagian belakang panel berisi lampu dll

Senin, 08 Maret 2021

Testing Superflour

Beberapa paket superflour yang sedang di ujicoba telah diberikan ke anak-anak di Kupang. Super Flour dibagikan oleh salah seorang teman bidan bersama dua orang rekan nakes yang bertugas, tepatnya pada tanggal 13 februari 2020 saat hari posyandu. Lokasi posyandu berada di desa Fatuteta, kecamatan Amabi-Oefeto, Kabupaten Kupang, yang adalah wilayah cakupan Puskesmas Fatukanutu.

Super flour dibagikan ke anak-anak pada rentang usia 8-24 bulan untuk diujicoba rasanya, apakah disukai oleh anak-anak atau tidak. Karena jadwal posyandu disetiap desa diadakan sebulan sekali, maka informasi tentang hasil ujicoba rasa Super Flour baru bisa diperoleh pada tanggal 13 Maret 2021.

Uji coba ini lebih fokus pada rasa, apakah anak-anak menyukai rasanya. Hasilnya nanti akan digunakan bagi Shanti untuk membuat perbaikan dikemudian hari.