Selasa, 07 April 2026

Persiapan pertemuan relawan kalbar ke 3

Setelah Shanti menyelesaikan prototip pertama antenna Yagi-Uda, SWR yang didapatkan adalah 1,25. Semua elemen menggunakan kawat tembaga berukuran 3mm, dengan boom menggunakan pipa PVC berukuran ½ inchi, sepanjang kira-kira 120cm. 

Walaupun begitu, ternyata prototipe antenna ini terlalu berat untuk digunakan non stop dalam waktu yang cukup lama, misalnya 5 menit. Antenna cukup panjang, sekitar 120cm, sehingga ketika dipegang dengan tangan, akan terasa melelahkan. Sehingga desain antenna harus diubah dengan menggunakan material yang lebih ringan. 

Shanti mencoba menggunakan boom dengan pipa pcv berukuran 5/8 inchi, dan ternyata cukup kuat, lebih ringan, dan tidak melengkung. Pipa aluminium berdiameter 5mm digunakan untuk semua elemen. 

Setelah dipasang elemen reflector dan director, nilai SWR menjadi sekitar 14,0. Sesuai teori, untuk menurunkan impedance, maka dibutuhkan metode hairpin dengan kabel. Setelah proses mencari panjang kabel yang dibutuhkan, akhirnya diperoleh panjang kabel hairpin yang menunjukkan nilai SWR sekitar 9,0. Ini adalah nilai SWR yang paling rendah yang didapatkan. 

Sementara, teorinya mengatakan harus mendapatkan SWR dibawah 2, lalu dilakukan tuning dengan cara memotong panjang semua elemen secara bertahap. Sampai titik ini, Shanti kecewa karena tidak bias mendapatkan nilai SWR yang rendah.

Ternyata, setelah Shanti tetap mencoba melakukan pemotongan panjang elemen-elemen, nilai SWR langsung menurun, hingga akhirnya menyentuh 1,2. Artinya proses pembuatan antenna Yagi sudah selesai dan Shanti sudah mengerti proses pembuatannya.

Pipa aluminium berdiameter 5mm ini cocok untuk antena Yagi-Uda yang portabel karena ringan dan tidak mudah patah. Pada prototipe yang pertama, menggunakan kawat tembaga berukuran 3mm, ternyata bautnya mudah patah. Ini akan mempersulit dilapangan, bila tiba-tiba patah ketika akan digunakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar