Rabu, 15 Mei 2019

Pelatihan M-Health untuk Dinkes Soe

Kunjungan Shanti kali ini ke Kota Soe adalah untuk memberikan Pelatihan penggunaan Kobocollect untuk Sanitarian kabupaten TTS dan juga memperkenalkan pada Nakes Puskesmas Siso tentang metode pengumpulan data berbasis digital yang dapat mempermudah pekerjaan mereka. Selama ini, para Nakes dilapangan hanya menggunakan sistem manual atau dengan mengisi formulir kertas. Sebelumnya telah ada perbincangan dengan relasi Shanti di Dinas Kesehatan Kabupaten Timor Tengah Selatan yaitu Pak Nelson Sula tentang kebutuhan prioritas yang mereka butuhkan untuk mensupport tenaga lapangan dalam mengumpulkan data. Kegiatan ini dilakukan selama 2 hari di Kota Soe.

Materi pelatihan dihari pertama di Soe yang diberikan adalah :
-    Perkenalan Kobocollect
-    Cara membuat akun KoboToolbox
-    Membuat formulir kobocollect
-    Instalasi Kobocollect di HP android
-    Menggunakan Kobocollect untuk mengumpulkan data (Praktek Mengisi Form menggunakan form model Inspeksi Sanitasi)
-    Melihat Data hasil pengiriman di Server KoboCollect
-    Mengambil data kobocollect dalam bentuk Excel dan Media

Materi pelatihan di hari kedua di Puskesmas Siso yaitu:
-    Perkenalan Kobocollect
-    Cara membuat akun KoboToolbox
-    Membuat formulir kobocollect
-    Instalasi Kobocollect di HP android
-    Menggunakan Kobocollect untuk mengumpulkan data (Praktek Mengisi Form menggunakan form model KIA)
-    Melihat Data hasil pengiriman di Server KoboCollect
-    Mengambil data kobocollect dalam bentuk Excel dan Media

Total peserta pelatihan selama 2 hari berjumlah 43 orang di antaranya 26 orang Sanitarian dari beberapa Puskesmas (Pada Hari pertama), 16 Pegawai Puskesmas Siso (pada hari ke 2) serta perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten TTS, Pak Nelson Sula dan Pemateri dari Shanti sendiri.





Senin, 08 April 2019

Bantuan M-Health bagi Dinkes Kab TTS

Beberapa bulan yang lalu, Shanti menunjukkan demo untuk menggunakan HP dalam pengumpulan data-data kepada salah satu staf dinkes kab Timor Tengah Selatan. Yang bersangkutan tertarik dan lalu memperkenalkannya kepada jajarannya.

Setelah itu, Shanti diminta untuk membuatkan demo aplikasi di HP bagi kebutuhan pemantauan ibu hamil - persalinan. Permintaan ini sudah diselesaikan, pada tanggal 5 Maret ada pertemuan rutin internal Dinkes TTS dengan bidan - bidan, dan contoh aplikasi untuk pengumpulan data ibu hamil dipresentasikan oleh Nelson. Beberapa puskesmas tertarik, dan saat ini masih dalam proses koordinasi dengan puskesmas-puskesmas tersebut.

Shanti juga diminta bantuannya untuk membuatkan aplikasi bagi survey sanitasi rumah dengan memakai kobocollect. Aplikasi sudah dibuatkan, dan ternyata mereka sudah mengumpulkan data untuk 400 rumah. Shanti berencana untuk mengunjungi Soe setelah tanggal 17 April, dan memberikan pelatihan kepada  mereka.

Senang bila hasil pekerjaan ternyata dapat membantu pihak lain. Membuat kita makin semangat.


Sabtu, 09 Maret 2019

Melanjutkan belajar membuat gantungan kunci karet

Shanti masih belajar proses pembuatan gantungan kunci karet ini, dan sudah cukup percaya diri dan merasa mampu untuk melatih masyarakat/pihak lain. Walaupun begitu, proses belajar masih berlangsung, dan Shanti masih mencoba beberapa hal baru.

Shanti sudah bisa membuat gantungan kunci karet yang transparan. Sebagai tes kasus, Shanti mendonasikan gantungan kunci untuk klub Nissan Patrol, dan ingin melihat responnya. Semua pihak yang ditunjukkan atau diberikan gantungan kunci produksi Shanti, merasa senang. Sehingga kemungkinan besar, pangsa pasarnya cukup besar.

Membuat ganci yang transparan ternyata tidak mudah

Ganci yang didonasikan ke klub

Sabtu, 09 Februari 2019

Ikut Pelatihan Ketrampilan Karet, Resin, dan Fiber

Pada tanggal 7 - 13 Januari 2019, Shanti mengikuti pelatihan tentang penggunaan Resin untuk souvenir, Fiber dan kertas, serta karet untuk gantungan kunci di Yogyakarta. Harga pelatihan yang ditawarkan ini sangat mahal. Walaupun begitu, Shanti mencoba untuk mengikutinya dengan harapan mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan yang sangat banyak sesuai dengan harganya.

Ternyata kualitas dari pelatihan ini sangat buruk bila dibandingkan dengan harga yang diminta, dan lebih kearah penipuan. Seandainya harga yang ditawarkan hanya beberapa ratus ribu rupiah, maka kualitas pelatihan ini cukup baik dan sama sekali bukan penipuan.

Setelah kembali dari Pelatihan, Shanti harus belajar sendiri untuk menambah pengetahuan-pengetahuan yang dibutuhkan, dan mencobanya. Dari pengalaman mencoba sendiri, maka Shanti dapat belajar dengan lebih baik.


Shanti mulai mencoba membuat gantungan kunci yang terbuat dari karet untuk berlatih. Sebuah cetakan, atau lebih dikenal dengan nama Matres, sudah dibuat desain nya dan sudah matres sudah diterima.  Matres ini terbuat dari aluminium, dengan lubang/alur (sesuai dengan desain yang kita inginkan) untuk memasukkan karet cair yang sudah diberi warna. Matres yang dipesan adalah untuk membuat gantungan kunci Shanti. Harga Matres ini cukup mahal, Rp. 200.000 per lubang, Shanti memesan 2 lubang. Tetapi matres ini bisa dipakai untuk waktu yang sangat lama.

Shanti sudah mencoba membuat beberapa buah gantungan kunci, yang dapat diberikan kepada tamu ataupun ketika berkunjung kelapangan. Pada saat laporan ini ditulis, beberapa gantungan kunci sudah diberikan kepada beberapa pihak, dan semuanya suka dengan hasilnya. 😍


Beberapa cetakan yang dipakai untuk resin

Beberapa hasil Resin yang diperoleh dari cetakan

Proses pembuatan gantungan kunci karet

Mencampur resin dilakukan dengan hati-hati

Shanti bereksperimen dengan
paduan warna-warna

Akhirnya warna biru yang paing terlihat bagus

Jumat, 04 Januari 2019

Belajar Solar system

Ketika berkunjung ke Sumba, Shanti melihat produk solar panel set yang dikelola oleh yayasan setempat. Solar panel tersebut diproduksi oleh Sunking, dan cukup bagus kualitasnya. Shanti tertarik untuk mencoba membuat sendiri, yang nantinya mungkin bisa mendapatkan total harga yang lebih murah dan dapat digunakan untuk membantu masyarakat.

Solar sel yang digunakan untuk belajar adalah tipe Polycrystaline. Jenis panel surya ini terbuat dari beberapa batang kristal silikon yang dicairkan, setelah itu dituangkan dalam cetakan yang berbentuk persegi. Kristal silikon dalam jenis panel surya ini tidak semurni pada sel surya monocrystalline. Jadi, sel surya yang dihasilkan tidak identik antara satu sama lainnya. Walaupun efisiensinya lebih rendah dari monocrystalline, jenis ini dipilih selama proses testing karena harganya murah dan lebih mudah didapatkan.

Solar cell yang dipakai berukuran 52mm x 26mm, dengan daya max 0.225W, dan voltage 0.5v. Pemasangan susunan solar cell ini seharusnya dengan dibuatkan kotak sebagai pelindung dengan kaca pada bagian atasnya, sehingga terlindung dari cuaca, dan sinar matahari dapat menyinari solar cell dengan baik. Shanti mencoba untuk mencari cara yang lebih mudah dengan menyemprotkan lapisan acrylic pada solar cell. Cara ini diharapkan dapat mempermudah dan mengurangi total biaya yang dibutuhkan.

Pada tes yang dilakukan, tidak ditemukan perbedaan signifikan pada listrik yang dihasilkan oleh solar cell dengan atau tanpa lapisan acrylic. Solar Cell yang tidak disemprot Acrylic menghasilkan listrik 0.53 volt. Sementara bila disemprot dengan Acrylic, turun menjadi 0.50 volt. Sehingga ada perbedaan sebesar 0.03 volt. Memang penggunaan semprotan acrylic menurunkan voltage yang dihasilkan, tapi Shanti tidak mengganggap penurunan ini signifikan. Sehingga Shanti meneruskan testing dengan cara ini.

Rangkaian 6 buah solar cell yang akan digunakan untuk mengisi 3 buah batere recharge. Yang kemudian digunakan untuk menyalakan lampu LED SMD 5730. Reflektor lampu menggunakan bekas tutup minuman cepat saji, yang dilapisi dengan aluminium foil.

Hingga laporan ini ditulis, proses belajar dan testing masih berlangsung.

Pembelajaran yang sudah didapatkan:
  • Solar cell sangat tipis dan mudah patah bila ditekan ataupun jatuh. Slama proses belajar ini, shanty sudah menghancurkan 2 buah cell. Bekerja dengan solar cell harus dilakukan dengan hati-hati.
  • Penyolderan solar cell juga membutuhkan ketrampilan dan kebiasaan. Shanti masih belum mampu melakukan penyolderan tab wire dengan baik. Walaupun ketika di tes dengan ohm meter, solar cell sudah terhubung dengan baik dengan tab wire, tetapi tidak terlihat rapih. Lebih baik menggunakan solder dengan mata pipih daripada lancip.
  • Hingga saat ini, biaya yang dikeluarkan masih tergolong minim. Satu buah solar cell yang digunakan, berharga Rp. 1.500,- Solar cell tipe monocrystaline berharga lebih mahal, tetapi listrik yang dihasilkan lebih besar daripada polycrystalline. 
  • Baterai recharge yang digunakan berharga Rp. 5.800,- per buah. Tab wire yang digunakan berharga Rp. 4.900,- per meter. Lampu LED yang digunakan berharga Rp. 100,- per buah. Lampu ini sangat kecil, istilahnya, sebesar kutu, tetapi sinarnya sangat terang. Jadi mungkin lebih baik menggunakan pinset untuk memegangnya.

Ternyata solar cell sangat tipis, 2 buah patah ketika tes

Sel asli menghasilkan 0,53 volt

Sel yang disemprot acrylic menghasilkan 0,50 volt

6 buah sel dirangkai seri dan disemprot acrylic

3 buah baterai 1,2 volt dirangkai seri

Deretan LSD SMD 5730

Bentuk akhir dengan 4 buah LSD SMD 5730

sudah bisa menyala

Jumat, 07 Desember 2018

Pelatihan OpenJump dan Kobocollect di Bojonegoro

Pelatihan OpenJump dan KoboToolbox dilatarbelakangi oleh perbincangan Yayasan Shanti dengan Pak Alexander Mubarok (Pak Alex) dan teman-teman dari Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Pelatihan ini diberikan selama 4 hari, 30 November - 3 Desember 2018.Peserta pelatihan berjumlah 41 orang, di antaranya perwakilan kader setiap MWC NU, Perguruan Tinggi, LSM, Organisasi Mahasiswa, dan mitra Lakpesdam NU.

Secara ringkas, materi yang akan diberikan adalah sebagai berikut:
Hari 1:
  • Sesi 1: Perkenalan singkat dengan Sistim informasi geografis
  • Sesi 2: Instalasi software Openjump dan software terkait lainnya
  • Sesi 3: Mengenal Openjump dan fungsi dasar
  • Sesi 4: Diskusi tentang pemakaian sistim informasi geografis di pekerjaan sehari-hari
Hari 3:
  • Sesi 9: Mengenal Kobocollect
  • Sesi 10: Membuat formulir kobocollect
  • Sesi 11: Instalasi Kobocollect di HP android
  • Sesi 12: Menggunakan Kobocollect untuk mengumpulkan data
Hari 2:
  • Sesi 5: Menggunakan Openjump dengan peta Bojonegoro
  • Sesi 6: Menggunakan Openjump untuk melakukan analisa 1
  • Sesi 7: Menggunakan Openjump untuk melakukan analisa 2
  • Sesi 8: Menyiapkan peta siap cetak
Hari 4:
  • Sesi 13: Mengambil data kobocollect
  • Sesi 14: Menyatukan data kobocollect kedalam peta Bojonegoro
  • Sesi 15: Melakukan analisa data & Mencetak peta
  • Sesi 16: Diskusi bebas
Pelatihan berlangsung baik, beberapa peserta dapat menyerap materi lebih cepat dari peserta lainnya. Bila dibutuhkan, peserta-peserta ini dapat digunakan untuk melatih staf lain. Pelatihan ini memang harus ditindak lanjuti oleh peserta dengan lebih sering melatih diri, sehingga akhirnya bisa memakai OpenJump dan Kobocollect dengan lancar.

Selain kedua software ini, diberikan juga software lainnya: GeoODK convert (untuk merubah Garis atau poligon di ODK kedalam SHP, tidak berfungsi di linux, mungkin di windows berfungsi), Inkscape (untuk melakukan editing lebih lanjut pada peta format SVG), MapWindow (berguna untuk convert proyeksi banyak SHP), Qgis (bila peserta ingin mencoba, kemampuannya melebihi openjump), dan Saga (bila peserta ingin mencoba, lebih berguna untuk peta raster)

Semoga pelatihan ini berguna bagi bagi semuanya !


Bincang2 sebelum pelatihan

Pembukaan acara

Peserta2 yang antusias

Belajar ODK

Selamat untuk peserta yang bertahan hingga akhir !

Makan malam yg nikmat sebelum naik kreta
Nasi pecel memang Nyam2

Kamis, 06 Desember 2018

Mengikuti pelatihan Drone untuk pemetaan

Pada tanggal 8 - 10 November 2018, Shanti mengikuti pelatihan yang diadakan oleh fakultas Geografi Universitas Indonesia. Shanti mengikuti pelatihan ini supaya mengetahui proses dari awal untuk menggunakan drone dalam pemetaan. Cara ini sangat berguna ketika membutuhkan foto situasi dalam waktu singkat dengan biaya yang masih terjangkau. Sebagai contoh, ketika terjadi bencana, dibutuhkan informasi yang cepat tentang situasi dan kondisi dilapangan. Penggunaan drone dapat memenuhi kebutuhan tersebut.

Hari pertama, peserta diberi penjelasan dan kesempatan untuk mencoba menerbangkan drone dan mengambil foto-foto dari udara. Pengalaman ini sangat menyenangkan karena baru pertama kali menerbangkan drone.

Hari kedua, peserta diajak untuk membuat orthomosaik dari foto-foto yang diambil. Software Photoscan digunakan selama pelatihan ini. Software ini berlisensi dan harganya sangat mahal. Sebagai alternatif, dapat digunakan software Opendronemap.

Dimulai pada tengah hari kedua hingga hari ketiga, peserta diajak mengolah orthomosaik menjadi peta vektor, dan dianalisa. Software ArcGis digunakan saat pelatihan. Software ini juga berharga mahal, sebagai alternatif bisa digunakan Qgis ataupun Saga.

Beberapa catatan penting bagi Shanti setelah mengikuti pelatihan ini adalah:
  1. Drone DJI phantom 3 professional adalah drone yang paling murah untuk pembuatan foto udara bagi kebutuhan pemetaan. Kemungkinan lain adalah bereksperimen dengan melakukan modifikasi pada drone yang lebih murah. Beberapa modifikasi juga masih mungkin untuk dilakukan pada drone ini, misalnya, menambah kapasitas batere, antenna transmitter/receiver, dll.
  2. Software Pix4D penting untuk mengatur drone secara otomatis dalam proses pengambilan foto-foto udara. Software ini gratis, diinstall pada HP android. Walaupun begitu, akan kesulitan ketika akan membagi area yang akan difoto menjadi beberapa bagian, karena pix4D tidak memberikan fasilitas ini. Shanti dapat mencari kemungkinan penggunaan software lain yang gratis.
  3. Untuk membuat orthomosaik dari kumpulan foto-foto udara tersebut Shanti tidak dapat menggunakan Photoscan karena harganya sangat mahal. Untuk ini, tersedia software Opendrone Map yang gratis. Software ini dapat diinstal pada linux tanpa masalah. Software ini dapat digunakan ketika sedang dilapangan menyelesaikan proses pengambilan foto, kita dapat melihat apakah ada area yang tidak terfoto (perlu laptop dengan spesifikasi yang cukup tinggi). Sehingga ketika pulang, semua area sudah selesai difoto dengan baik.
  4. Proses pembuatan Orthomosaik ini membutuhkan computer dengan spesifikasi yang sangat tinggi dan membutuhkan waktu sangat lama, bergantung pada jumlah foto yang diolah. Salah satu kemungkinan adalah menginstall Opendronemap pada server online, dan melakukan proses orthomosaic disitu.
  5. Untuk pengolahan dan analisa foto udara, tidak perlu menggunakan software Arcgis, yang berharga sangat mahal. Shanti dapat menggunakan software Qgis dan Saga yang tersedia gratis. Semua yang dilakukan pada saat pelatihan dapat dilakukan oleh Qgis.

Penjelasan tentang Drone

Sebelum menerbangkan Drone

Peserta mencoba menerbangkan Drone

Semua sedang mencari Drone nya

Photo bersama sebelum pulang