Kamis, 17 September 2015

Seminar Evaluasi Metode Realist

Pada tanggal 9 - 14 September 2015, Shanti mendapatkan undangan dari Universitas Charles Darwin, australia, untuk mengikuti workshop tentang penggunaan metode Realist dalam melakukan evaluasi.

Seperti yang telah kita ketahui, semua metode evaluasi memiliki keuntungan dan kerugiannya masing-masing. Tidak ada metode yang sempurna. Metode realist merupakan salah satu metode untuk melakukan evaluasi program. Metode ini ditemukan oleh Nick Tilley dan Ray Pawson, dan mulai dicoba oleh beberapa pihak, termasuk didalamnya LSM. Metode ini merupakan metode kualitatif, salah satu cara untuk melakukan analisa sosial, dan dapat dikombinasikan dengan metode lainnya, termasuk metode kuantitatif.

Seperti kita semua ketahui juga, realitas yang terjadi dilapangan adalah tidak beraturan dan sangat rumit. Contohnya, mengapa sebuah program berhasil di sebuah lokasi, sementara program yang persis sama tidak berhasil ditempat lain. Keinginan metode ini adalah menjelaskan realitas yang terjadi dilapangan, Mengapa dan Bagaimana sebuah program berhasil atau gagal di sebuah situasi.

Hasilnya tentu saja membantu kita semua untuk belajar tentang penyebab keberhasilan dan kegagalan di sebuah situasi. Bila pembelajaran ini diterapkan di situasi/lokasi yang berbeda, apakah akan pasti berhasil? Belum tentu, karena setiap situasi/lokasi mempunyai keunikannya sendiri. Walaupun begitu, akan sangat membantu pelaksana/perencana program untuk terus melakukan perbaikan bagi program yang akan dating, baik di lokasi yang sama ataupun berbeda.

Informasi lebih lengkap tentang metode ini dapat diunduh dari sini.

Senin, 07 September 2015

Biogas di desa Jelat, Ciamis

Salah satu warga desa Jelat menanyakan kemungkinan untuk membantu mereka menyelesaikan masalah tentang limbah pabrik tahu yang dibuang ke sungai.
Limbah ini menyebabkan masyarakat tidak bisa menggunakan air sungai untuk keperluan sehari-hari, misalnya untuk pengairan sawah, kolam ikan, dll.

Karena Yayasan Shanti belum berpengalaman di bidang limbah, Shanti mencoba mencari LSM yang bergerak dibidang solusi Limbah dan bertemu dengan Yayasan Rumah Energi. Yayasan Rumah Energi adalah LSM yang salah satu programnya adalah BIRU (Program Biogas Rumah).

Pada tanggal 25 Agustus 2015, dilakukan pertemuan antara Shanti, Yayasan rumah energi, para pengrajin tahu, dan perangkat Desa. Juga dilakukan kunjungan bersama ke beberapa pabrik tahu.

Beberapa kesepakatan dibentuk pada hari tersebut:
  1. Penanganan limbahnya dulu yaitu bagaimana air limbah bisa menjadi sebening mungkin dan bau tidak ada. Tentang penggunaan gas, bisa diberikan kepada lingkungan atau buat penerangan industri.
  2. Atas desakan masyarakat, pengrajin sudah siap dana untuk pembangunan pengolahan limbah, tinggal kapan dimulai waktunya.
  3. Karena subsidi dari BIRU hanya Rp.2.000.000,- maka sisanya sejumlah Rp.11.000.000 akan ditanggung pemilik industri dari total biaya pembangunan reaktor sejumlah Rp.13.000.000,-
  4. Hanya 1 pemilik industri yaitu pak Odo yang siap untuk pembangunan reaktor biogas, karena bu Tati keberatan atas biayanya.
  5. Bu Camat mencabut kembali kewajiban pak Odo untuk menyambung pipa paralon pembuangan air limbah sampai ke waduk, senilai Rp.35.000.000,-
Beberapa keterangan dan kondisi yang disampaikan BIRU apabila pengrajin dan aparat desa ingin dibangunkan reaktor oleh BIRU:
  1. Reaktor yang akan dibangun adalah skala rumah tangga dengan luas +12m3,  dengan kapasitas limah 300L/hr, kapasitas total bak 9600Lm dan kapasitas gas dalam kubah 2300m3.
  2. Reaktor yang dibuat tidak benar-benar 100% menyelesaikan masalah, jadi limbah tahu yang melalui proses baunya masih ada.
  3. Biogas yang dihasilkan limbah tahu tidak sebagus yang dihasilkan kotoran tataupun lampu, kompor akan diberikan gratis kepada pengrajin yang membangun reaktor sementara lampu biogas harus beli dan pesan harganya Rp.250.000,-, selain itu bisa untuk menyalakan genset tetapi genset harus dimodifikasi dahulu.
  4. Kekuatan bangunan reaktor adalah selama 20 tahun, perawatan akan dilakukan setahun sekali selama 2 tahun, pemilik reaktor dan pengrajin akan memberikan pelatihan gratis tentang cara pemeliharaan dan perawatan reaktor milik mereka, misalnya membersihkan pipa2 saluran dari sisa limbah, kalaupun ada kerusakan BIRU siap datang untuk membantu.
  5. Proses pengerjaan reaktor sbb:
  •  Pembuatan Layout lokasi terlebih dahulu
  • Penggalian (sudah termasuk biaya subsidi) 12m3 penggalian biasanya 4 hari.
  • Pembangunan reaktor selesai + 10 hari sesudah penggalian selesai.
  • Lama pembangunan reaktor kapasitas 12m3, + 2 minggu.
Ketika laporan ini ditulis, pekerjaaan sudah dilakukan, reaktor biogas hampir selesai.

Untuk tindakan selanjutnya, Shanti bersama yayasan rumah energy akan terus berkoordinasi sejak pembuatan layout reactor biogas hingga reactor tersebut selesai dan berfungsi. 1 buah Reaktor di tempat pak Odo akan menjadi proyek contoh bagi pemda setempat.

Informasi lebih lengkap tentang biogas dari limbah tahu dapat dilihat disini.

Salah satu pabrik tahu
Pertemuan di balai desa





Jumat, 07 Agustus 2015

Pelatihan Manajemen Koperasi

Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI) sebagai jaringan nasional Pekerja Seks yang bergerak dalam penanggulangan HIV serta fokus pada HAM dan Pekerja Seks, membentuk suatu kelompok usaha yaitu Koperasi yang diberi nama Koperasi Opsi Mandiri.

Pada tanggal 4-7 Juli 2015, Shanti memberikan bimbingan kepada Koperasi Opsi Mandiri di Jakarta pusat. Proses pelatihan tentang Koperasi Opsi yang anggotanya adalah PS ini berjalan dengan banyak diskusi dan keterlibatan peserta untuk mempersiapkan kepengurusan Koperasi, peserta sepakat dengan sistim musyawarah mufakat dalam menyelesaikan permasalahan dalam diskusi pelatihan ini.

Hingga saat ini, Shanti berkomitmen untuk tetap memberikan bimbingan kepada koperasi Opsi Mandiri.


Presentasi fasilitator



Diskusi kelompok



Presentasi kelompok


Peserta pelatihan



Selasa, 09 Juni 2015

Pembuatan Peta

Bagi orang-orang yang sering bepergian ke luar kota, terutama di daerah-daerah terpencil, peta merupakan salah satu komponen yang penting untuk dimiliki. Tidak tersedianya peta yang cukup baik akan mempersulit perjalanan, atau mungkin akan menyebabkan kita tersesat.

Bertanya kepada penduduk setempat kadang-kadang sulit apabila jarang terdapat rumah penduduk di jalan yang kita lewati. Tingkat kesulitan akan meningkat ketika harus bergerak dengan cepat dalam kegiatan penanggulangan bencana.

Berdasarkan pengalaman di lapangan, tidak mudah mendapatkan peta yang cukup baik. Sehingga alternatif terbaik yang ada adalah membuat peta sendiri. Dengan berbekal GPS seadanya, setiap orang sebetulnya dapat membuat peta sendiri.

Walaupun tidak mempunyai latar belakang pendidikan di bidang pemetaan, personel shanti sudah sering membuat peta-peta kota yang terpencil, diantaranya adalah peta pulau nias, kota wamena, Sikka dan NTT. Produk yang terakhir adalah peta kota Agats (kabupaten Asmat, Propinsi Papua) dan sekitarnya.

Peta kota Agats


Peta ini dapat dinikmati oleh umum di Openstreetmap.org ataupun situs navigasi.net. Peta pada Openstreet map dapat diunduh dalam bentuk shape file, sedangkan peta pada navigasi.net dapat diunduh dan langsung dipasang pada GPS (tertentu) anda.

Tentu saja personel shanti akan tetap melakukan perbaikan-perbaikan dan penambahan detail peta di waktu yang akan datang.

Have fun, and enjoy the map.

Kamis, 07 Mei 2015

Pelatihan di Agats, Kabupaten Asmat

Pelatihan ini dimulai dengan pertemuan antara kami dengan PPKA (Panitia Peduli Keuskupan Agats) pada tahun 2014. Pada saat tersebut, PPKA memerlukan bantuan untuk program kesehatan di kabupaten Asmat.

Setelah kami menyelesaikan survey awal, merancang kegiatan, maka pada tanggal 13 - 25 April 2015 kami memberikan beberapa pelatihan di Agats. Pelatihan ini terlaksana atas kerjasama antara PPKA sebagai penyandang dana, Keuskupan Agats sebagai koordinator di lapangan, dan Yayasan Shanti sebagai pelatih.

Yang terlibat selama persiapan pelatihan ini adalah:
  • Pater Alexander Ardhiyoga dari keuskupan Agats, yang juga sempat menunggu tengah malam di pelabuhan untuk menjemput kiriman barang dari Jakarta.
  • Pak Richard dari bagian penyakit menular dinas kesehatan kabupaten Asmat
  • dr. Stephen Langi dari bagian pelayanan kesehatan dinas kesehatan kabupaten Asmat.
  • Bp. Hariadi Widiarta dari PPKA.
  • Nn. Yeni Kristanti, staf  PPKA yang berada di Agats. Yeni akhirnya menjadi tumpuan kami untuk berhubungan dan berkoordinasi dengan berbagai pihak di Agats. Hampir semua persiapan dikerjakan oleh Yeni.
  • Bp Daniel Wijaya rekan-rekan yang lain sangat membantu proses pengiriman dan penerimaan barang-barang ini.
  • Bp Jumasman (YD9SWQ), Bp Richard Robert Effruan (YD9SWS), Bp. Nasaruddin Idris (YD9SWT), Bp. M. Muzamil (YD9WDQ), Bp. Alosius Aitan (YD9SWC), Bp. Ridwan Baun (YD9WJB) dari Orari Agats yang membantu koordinasi persiapan pelatihan.


Pelatihan yang diberikan adalah tentang:
- Penyakit menular, pencegahan-penularan-deteksi dini-tanda bahaya
- Pembuatan antenna VHF sederhana
- APRS (Automatic Package Reporting System)
- Filter air sederhana
- Database sederhana



Pelatihan penyakit menular

Pembuatan antena

Mengukur SWR Antena buatan sendiri

Antena yang sudah selesai

Setting IGate di rumah YD9SWQ

Filter air sederhana

Suasana penghitungan barang


Salah satu pelatih terlantar di airport

Pelatih lainnya sedang "ngawan"
(istilah di asmat)





Selasa, 31 Maret 2015

Membantu BPBD Bojonegoro menyiapkan sistim peringatan dini

APRS (Automatic Packet Reporting System) adalah sebuah sistim pertukaran data yang menggunakan sarana radio komunikasi. Sistim ini bukanlah sesuatu yang baru, dan sudah dipakai oleh komunitas pengguna radio komunikasi sejak lama. Sistim ini dipilih oleh Shanti karena murah dan mudah perawatannya, dibandingkan dengan sistim lainnya.

Shanti membantu BPBD Bojonegoro untuk menyiapkan IGate, 2 buah tracker, dan 1 buah sensor ketinggian air sungai. Peralatan tersebut semuanya dihibahkan oleh Shanti, dengan catatan, apabila tidak terpakai di Bojonegoro, semuanya akan dikembalikan kepada Shanti.

Bimbingan sudah diberikan beberapa kali, tetapi mereka meminta untuk memberikan pendalaman. Sehingga, Shanti memberikan bimbingan untuk kesekian kalinya pada tanggal 2 – 6 Maret 2015.

Bimbingan diberikan kepada BPBD Bojonegoro, Idfos, Phospora, dan FPBI. Materi yang diberikan adalah sejak dari awal penyiapan Raspberry Pi sebagai Igate, pengaturan tracker dan Sensor, serta desain pemasangan sensor. Berdasarkan kesepakatan bersama, sensor akan dipasang di sebuah jembatan di dekat kali kening.

Sayangnya waktu tidak mencukupi bagi Shanti untuk hadir hingga pemasangan sensor di tepi sungai. Sehingga pihak BPBD dan Idfos harus mengerjakannya sendiri. Hubungan antara Shanti dan pihak-pihak di Bojonegoro tidak berhenti disini, tetapi akan tetap berlangsung terus.

Situasi Pelatihan
Peserta pelatihan