Sabtu, 09 Februari 2019

Ikut Pelatihan Ketrampilan Karet, Resin, dan Fiber

Pada tanggal 7 - 13 Januari 2019, Shanti mengikuti pelatihan tentang penggunaan Resin untuk souvenir, Fiber dan kertas, serta karet untuk gantungan kunci di Yogyakarta. Harga pelatihan yang ditawarkan ini sangat mahal. Walaupun begitu, Shanti mencoba untuk mengikutinya dengan harapan mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan yang sangat banyak sesuai dengan harganya.

Ternyata kualitas dari pelatihan ini sangat buruk bila dibandingkan dengan harga yang diminta, dan lebih kearah penipuan. Seandainya harga yang ditawarkan hanya beberapa ratus ribu rupiah, maka kualitas pelatihan ini cukup baik dan sama sekali bukan penipuan.

Setelah kembali dari Pelatihan, Shanti harus belajar sendiri untuk menambah pengetahuan-pengetahuan yang dibutuhkan, dan mencobanya. Dari pengalaman mencoba sendiri, maka Shanti dapat belajar dengan lebih baik.


Shanti mulai mencoba membuat gantungan kunci yang terbuat dari karet untuk berlatih. Sebuah cetakan, atau lebih dikenal dengan nama Matres, sudah dibuat desain nya dan sudah matres sudah diterima.  Matres ini terbuat dari aluminium, dengan lubang/alur (sesuai dengan desain yang kita inginkan) untuk memasukkan karet cair yang sudah diberi warna. Matres yang dipesan adalah untuk membuat gantungan kunci Shanti. Harga Matres ini cukup mahal, Rp. 200.000 per lubang, Shanti memesan 2 lubang. Tetapi matres ini bisa dipakai untuk waktu yang sangat lama.

Shanti sudah mencoba membuat beberapa buah gantungan kunci, yang dapat diberikan kepada tamu ataupun ketika berkunjung kelapangan. Pada saat laporan ini ditulis, beberapa gantungan kunci sudah diberikan kepada beberapa pihak, dan semuanya suka dengan hasilnya. 😍


Beberapa cetakan yang dipakai untuk resin

Beberapa hasil Resin yang diperoleh dari cetakan

Proses pembuatan gantungan kunci karet

Mencampur resin dilakukan dengan hati-hati

Shanti bereksperimen dengan
paduan warna-warna

Akhirnya warna biru yang paing terlihat bagus

Jumat, 04 Januari 2019

Belajar Solar system

Ketika berkunjung ke Sumba, Shanti melihat produk solar panel set yang dikelola oleh yayasan setempat. Solar panel tersebut diproduksi oleh Sunking, dan cukup bagus kualitasnya. Shanti tertarik untuk mencoba membuat sendiri, yang nantinya mungkin bisa mendapatkan total harga yang lebih murah dan dapat digunakan untuk membantu masyarakat.

Solar sel yang digunakan untuk belajar adalah tipe Polycrystaline. Jenis panel surya ini terbuat dari beberapa batang kristal silikon yang dicairkan, setelah itu dituangkan dalam cetakan yang berbentuk persegi. Kristal silikon dalam jenis panel surya ini tidak semurni pada sel surya monocrystalline. Jadi, sel surya yang dihasilkan tidak identik antara satu sama lainnya. Walaupun efisiensinya lebih rendah dari monocrystalline, jenis ini dipilih selama proses testing karena harganya murah dan lebih mudah didapatkan.

Solar cell yang dipakai berukuran 52mm x 26mm, dengan daya max 0.225W, dan voltage 0.5v. Pemasangan susunan solar cell ini seharusnya dengan dibuatkan kotak sebagai pelindung dengan kaca pada bagian atasnya, sehingga terlindung dari cuaca, dan sinar matahari dapat menyinari solar cell dengan baik. Shanti mencoba untuk mencari cara yang lebih mudah dengan menyemprotkan lapisan acrylic pada solar cell. Cara ini diharapkan dapat mempermudah dan mengurangi total biaya yang dibutuhkan.

Pada tes yang dilakukan, tidak ditemukan perbedaan signifikan pada listrik yang dihasilkan oleh solar cell dengan atau tanpa lapisan acrylic. Solar Cell yang tidak disemprot Acrylic menghasilkan listrik 0.53 volt. Sementara bila disemprot dengan Acrylic, turun menjadi 0.50 volt. Sehingga ada perbedaan sebesar 0.03 volt. Memang penggunaan semprotan acrylic menurunkan voltage yang dihasilkan, tapi Shanti tidak mengganggap penurunan ini signifikan. Sehingga Shanti meneruskan testing dengan cara ini.

Rangkaian 6 buah solar cell yang akan digunakan untuk mengisi 3 buah batere recharge. Yang kemudian digunakan untuk menyalakan lampu LED SMD 5730. Reflektor lampu menggunakan bekas tutup minuman cepat saji, yang dilapisi dengan aluminium foil.

Hingga laporan ini ditulis, proses belajar dan testing masih berlangsung.

Pembelajaran yang sudah didapatkan:
  • Solar cell sangat tipis dan mudah patah bila ditekan ataupun jatuh. Slama proses belajar ini, shanty sudah menghancurkan 2 buah cell. Bekerja dengan solar cell harus dilakukan dengan hati-hati.
  • Penyolderan solar cell juga membutuhkan ketrampilan dan kebiasaan. Shanti masih belum mampu melakukan penyolderan tab wire dengan baik. Walaupun ketika di tes dengan ohm meter, solar cell sudah terhubung dengan baik dengan tab wire, tetapi tidak terlihat rapih. Lebih baik menggunakan solder dengan mata pipih daripada lancip.
  • Hingga saat ini, biaya yang dikeluarkan masih tergolong minim. Satu buah solar cell yang digunakan, berharga Rp. 1.500,- Solar cell tipe monocrystaline berharga lebih mahal, tetapi listrik yang dihasilkan lebih besar daripada polycrystalline. 
  • Baterai recharge yang digunakan berharga Rp. 5.800,- per buah. Tab wire yang digunakan berharga Rp. 4.900,- per meter. Lampu LED yang digunakan berharga Rp. 100,- per buah. Lampu ini sangat kecil, istilahnya, sebesar kutu, tetapi sinarnya sangat terang. Jadi mungkin lebih baik menggunakan pinset untuk memegangnya.

Ternyata solar cell sangat tipis, 2 buah patah ketika tes

Sel asli menghasilkan 0,53 volt

Sel yang disemprot acrylic menghasilkan 0,50 volt

6 buah sel dirangkai seri dan disemprot acrylic

3 buah baterai 1,2 volt dirangkai seri

Deretan LSD SMD 5730

Bentuk akhir dengan 4 buah LSD SMD 5730

sudah bisa menyala

Jumat, 07 Desember 2018

Pelatihan OpenJump dan Kobocollect di Bojonegoro

Pelatihan OpenJump dan KoboToolbox dilatarbelakangi oleh perbincangan Yayasan Shanti dengan Pak Alexander Mubarok (Pak Alex) dan teman-teman dari Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Pelatihan ini diberikan selama 4 hari, 30 November - 3 Desember 2018.Peserta pelatihan berjumlah 41 orang, di antaranya perwakilan kader setiap MWC NU, Perguruan Tinggi, LSM, Organisasi Mahasiswa, dan mitra Lakpesdam NU.

Secara ringkas, materi yang akan diberikan adalah sebagai berikut:
Hari 1:
  • Sesi 1: Perkenalan singkat dengan Sistim informasi geografis
  • Sesi 2: Instalasi software Openjump dan software terkait lainnya
  • Sesi 3: Mengenal Openjump dan fungsi dasar
  • Sesi 4: Diskusi tentang pemakaian sistim informasi geografis di pekerjaan sehari-hari
Hari 3:
  • Sesi 9: Mengenal Kobocollect
  • Sesi 10: Membuat formulir kobocollect
  • Sesi 11: Instalasi Kobocollect di HP android
  • Sesi 12: Menggunakan Kobocollect untuk mengumpulkan data
Hari 2:
  • Sesi 5: Menggunakan Openjump dengan peta Bojonegoro
  • Sesi 6: Menggunakan Openjump untuk melakukan analisa 1
  • Sesi 7: Menggunakan Openjump untuk melakukan analisa 2
  • Sesi 8: Menyiapkan peta siap cetak
Hari 4:
  • Sesi 13: Mengambil data kobocollect
  • Sesi 14: Menyatukan data kobocollect kedalam peta Bojonegoro
  • Sesi 15: Melakukan analisa data & Mencetak peta
  • Sesi 16: Diskusi bebas
Pelatihan berlangsung baik, beberapa peserta dapat menyerap materi lebih cepat dari peserta lainnya. Bila dibutuhkan, peserta-peserta ini dapat digunakan untuk melatih staf lain. Pelatihan ini memang harus ditindak lanjuti oleh peserta dengan lebih sering melatih diri, sehingga akhirnya bisa memakai OpenJump dan Kobocollect dengan lancar.

Selain kedua software ini, diberikan juga software lainnya: GeoODK convert (untuk merubah Garis atau poligon di ODK kedalam SHP, tidak berfungsi di linux, mungkin di windows berfungsi), Inkscape (untuk melakukan editing lebih lanjut pada peta format SVG), MapWindow (berguna untuk convert proyeksi banyak SHP), Qgis (bila peserta ingin mencoba, kemampuannya melebihi openjump), dan Saga (bila peserta ingin mencoba, lebih berguna untuk peta raster)

Semoga pelatihan ini berguna bagi bagi semuanya !


Bincang2 sebelum pelatihan

Pembukaan acara

Peserta2 yang antusias

Belajar ODK

Selamat untuk peserta yang bertahan hingga akhir !

Makan malam yg nikmat sebelum naik kreta
Nasi pecel memang Nyam2

Kamis, 06 Desember 2018

Mengikuti pelatihan Drone untuk pemetaan

Pada tanggal 8 - 10 November 2018, Shanti mengikuti pelatihan yang diadakan oleh fakultas Geografi Universitas Indonesia. Shanti mengikuti pelatihan ini supaya mengetahui proses dari awal untuk menggunakan drone dalam pemetaan. Cara ini sangat berguna ketika membutuhkan foto situasi dalam waktu singkat dengan biaya yang masih terjangkau. Sebagai contoh, ketika terjadi bencana, dibutuhkan informasi yang cepat tentang situasi dan kondisi dilapangan. Penggunaan drone dapat memenuhi kebutuhan tersebut.

Hari pertama, peserta diberi penjelasan dan kesempatan untuk mencoba menerbangkan drone dan mengambil foto-foto dari udara. Pengalaman ini sangat menyenangkan karena baru pertama kali menerbangkan drone.

Hari kedua, peserta diajak untuk membuat orthomosaik dari foto-foto yang diambil. Software Photoscan digunakan selama pelatihan ini. Software ini berlisensi dan harganya sangat mahal. Sebagai alternatif, dapat digunakan software Opendronemap.

Dimulai pada tengah hari kedua hingga hari ketiga, peserta diajak mengolah orthomosaik menjadi peta vektor, dan dianalisa. Software ArcGis digunakan saat pelatihan. Software ini juga berharga mahal, sebagai alternatif bisa digunakan Qgis ataupun Saga.

Beberapa catatan penting bagi Shanti setelah mengikuti pelatihan ini adalah:
  1. Drone DJI phantom 3 professional adalah drone yang paling murah untuk pembuatan foto udara bagi kebutuhan pemetaan. Kemungkinan lain adalah bereksperimen dengan melakukan modifikasi pada drone yang lebih murah. Beberapa modifikasi juga masih mungkin untuk dilakukan pada drone ini, misalnya, menambah kapasitas batere, antenna transmitter/receiver, dll.
  2. Software Pix4D penting untuk mengatur drone secara otomatis dalam proses pengambilan foto-foto udara. Software ini gratis, diinstall pada HP android. Walaupun begitu, akan kesulitan ketika akan membagi area yang akan difoto menjadi beberapa bagian, karena pix4D tidak memberikan fasilitas ini. Shanti dapat mencari kemungkinan penggunaan software lain yang gratis.
  3. Untuk membuat orthomosaik dari kumpulan foto-foto udara tersebut Shanti tidak dapat menggunakan Photoscan karena harganya sangat mahal. Untuk ini, tersedia software Opendrone Map yang gratis. Software ini dapat diinstal pada linux tanpa masalah. Software ini dapat digunakan ketika sedang dilapangan menyelesaikan proses pengambilan foto, kita dapat melihat apakah ada area yang tidak terfoto (perlu laptop dengan spesifikasi yang cukup tinggi). Sehingga ketika pulang, semua area sudah selesai difoto dengan baik.
  4. Proses pembuatan Orthomosaik ini membutuhkan computer dengan spesifikasi yang sangat tinggi dan membutuhkan waktu sangat lama, bergantung pada jumlah foto yang diolah. Salah satu kemungkinan adalah menginstall Opendronemap pada server online, dan melakukan proses orthomosaic disitu.
  5. Untuk pengolahan dan analisa foto udara, tidak perlu menggunakan software Arcgis, yang berharga sangat mahal. Shanti dapat menggunakan software Qgis dan Saga yang tersedia gratis. Semua yang dilakukan pada saat pelatihan dapat dilakukan oleh Qgis.

Penjelasan tentang Drone

Sebelum menerbangkan Drone

Peserta mencoba menerbangkan Drone

Semua sedang mencari Drone nya

Photo bersama sebelum pulang

Sabtu, 03 November 2018

Bantuan ke Palu dan sekitarnya

Pada tanggal 18 – 24 Oktober 2018, Shanti berpartisipasi untuk penanggulangan bencana di kota Palu dan sekitarnya. Shanti membawa jerigen lipat berukuran 5 liter, Lifestraw community, filter RO beserta gensetnya, serta kebutuhan-kebutuhan lainnya. Fokus bantuan Shanti adalah membantu menyediakan air minum bagi yang membutuhkan, dan menyiapkan repeater VHF.

Ketika tiba di Palu, Shanti bergabung dan menjadi relawan Caritas setempat. Kota Palu sudah dibantu oleh banyak pihak dari banyak organisasi, sehingga Shanti mencoba menjangkau daerah-daerah yang masih memerlukan bantuan. Sesuai arahan dari tim Caritas, maka Shanti menjangkau dan membantu pengungsi kearah Selatan di kecamatan Kulawi di kabupaten Sigi. Perjalanan ditempuh sekitar 4-5 jam karena jalur sulit dijangkau. Harusnya daerah ini dijangkau dengankendaraan 4WD, tetapi Shanti masih bisa mencapai lokasi dengan kendaraan SUV biasa. Sebagian jalur kearah Kecamatan Kulawi, setelah gempa, menjadi rawan longsor (berwarna merah). Ketika kembali dari Kulawi dan sudah mencapai kota Palu, Shanti mendengat bahwa terjadi longsor pada jalan yang baru saja diliwati. Hingga Shanti kembali ke Jakarta, jalan tersebut masih belum bisa dilalui oleh kendaraan.
Jalur menuju Kulawi
Sesuai arahan Caritas, Shanti juga menjangkau kearah Utara, menjangkau dan membantu pengungsi di kecamatan Tompe, kabupaten Donggala. Jalur jalan masih baik walaupun dibeberapa tempat aspal pecah-pecah karena gempa, dan ada jembatan yang bergeser dari lokasi awalnya. Area ini masih dapat dijangkau dengan kendaraan biasa, tidak ditemukan kendala yang berarti. Perjalanan ditempuh dalam waktu sekitar 4 jam.Terlihat masih sedikit pihak LSM atau lainnya yang membantu daerah ini.

Dimasing-masing lokasi ketika Shanti berhenti, Shanti menghibahkan Lifestraw community, mengajarkan cara perawatannya, serta memberitahu kontak bila ada kesulitan dikemudian hari ataupun untuk  mendapatkan suku cadangnya.

Shanti kembali ke Jakarta pada tanggal 24 Oktober. Sisa-sisa barang hibah diserahkan kepada Caritas Setempat untuk diberikan kepada daerah – daerah lain yang hanya bisa dijangkau dengan kendaraan 4WD. Beberapa barang ditinggal di tempat penginapan, supaya bisa membantu dikemudian hari.Pihak distributor Lifestraw akan melakukan monitoring terhadap semua lifestraw yang sudah didistribusikan. Mereka berharap dapat digunakan untuk seterusnya.
Jalur menuju Tompe

Selama di Palu, tim Shanti sangat dibantu oleh keluarga dari salah satu pendiri Shanti. Keluarga tersebut sangat baik dan sangat membantu tim Shanti dalam banyak hal. Kami sangat berterima kasih atas semua kebaikannya, dan semoga kami bisa bertemu lagi dilain waktu tetapi bukan dalam situasi bencana. Shanti belajar banyak sekali dari pengalaman ini, pembelajaran ini akan sangat berguna bagi Shanti bila akan melakukan kegiatan yang sama di waktu yang akan datang.

Well Done guys. Tengkiu untuk semuanya. !! Semoga yang sudah dilakukan akan berguna bagi banyak orang.



Tim sedang di airport, akan berangkat dg perlengkapan

Tim baru tiba di Palu

Suasana di salah satu bagian kota Palu

Suasana di salah satu lokasi yang terkena Likuifaksi

Kondisi jembatan kuning yang terkenal di Palu

Suasana Jalan menuju Kulawi

Tim menjelaskan cara kerja alat di Kamp Boladangko

Ketika senggang, smua mengeringkan gigi dulu

Sebelum pulang dari Boladangko

Cara membuat saringan dari sabut kelapa dijelaskan ahlinya

Beda air hasil filter Lifestraw

Sebelum kembali dari desa Bolapappu

Tim menjelaskan alat di desa Oti

Mushola darurat di Desa Tompe

Penjelasan cara pakai alat di Desa Tompe

Diskusi dengan distributor Lifestraw

Penjelasan Lifestraw sebelum dihibahkan ke Caritas

Pelatihan cara pakai filter RO sebelum dihibahkan

1 buah Lifestraw akhirnya dipakai di dapur umum Caritas

Seorang ahli sedang mengisi jerigen lipat

Entah apa yang dibicarakan

Sebelum pulang dari caritas setelah hibah alat

Keluarga besar yang sangat baik dan sangat menolong tim kami