Kamis, 10 September 2026

Pembuatan repeater simplex sederhana (3) & dan perekam digital

Penyelesaian repeater sederhana buatan sendiri masih belum selesai. Pada bulan ini Shanti merangkai 15 buah baterai lithium 18650 menjadi sumber listrik 12volt. Rangkaian baterai ini akan dimasukkan kedalam kotak repeater untuk member listrik kepada keseluruhan paket repeater.

Selain itu, Shanti juga sudah memulai melakukan uji coba untuk merangkai perekam percakapan melalui radio. Alat perekam ini nanti akan menjadi semacam catatan untuk semua informasi yang diterima dan dikirimkan melalui radio. Sehingga, bila dibutuhkan, sebuah informasi dapat ditelusuri sumbernya. 

Pilihan pertama adalah dengan membeli alat yang sudah jadi, ada 1 produsen yang menyediakan perangkat yang tinggal pakai. Alatnya bernama boondock echo dan mempunyai kemampuan yang hebat, bahkan dapat memberikan transkrip dari percakapan melalui radio. Tetapi harganya sangat mahal, berharga US$ 349 (sekitar Rp. 6.153.149,2), belum termasuk ongkos kirimnya. 

Pilihan kedua adalah dengan membeli alat perekam portable yang memiliki kemampuan untuk menyimpan file dengan memberi tanggal dan waktu. Walaupun begitu, harga alat perekam yang seperti ini juga termasuk agak mahal, dikisaran 1 juta rupian.

Pilihan ketiga adalah dengan menggunakan kombinasi arduino atau ESP32 yang dilengkapi dengan beberapa perangkat lainnya. Opsi ini sangat murah, tetapi Shanti harus belajar lagi dari awal supaya dapat mengatur kombinasi peralatan ini.

Shanti mencoba merangkai ESP32 yang dilengkapi dengan modul SDcard, dan real time clock. Suara akan diterima oleh ESP32 pada pin Analog-Digital-Converter, lalu disimpan pada SDcard dalam format WAV, dengan menggunakan catatan waktu dari realtime clock. Kombinasi ini sudah berfungsi, tetapi suara yang didapatkan tidak jernih (mengandung nada tinggi/pitch) dan bervolume kecil. Hal ini kemungkinan besar disebabkan karena keterbatasan kemampuan ADC dari ESP32 untuk menyalurkan sinyal suara analog.

Selanjutnya, Shanti akan mencoba menggunakan ESP32 yang dihubungkan dengan modul VS1053B dan modul real time clock. Kombinasi ini, bila berhasil, kelihatannya adalah yang terbaik karena kemampuan ESP32 lebih banyak daripada arduino. Kombinasi yang juga dipertimbangkan adalah dengan mengganti modul vs1053b dengan modul PCM1808 dan ditambah modul mini SDcard. Berdasarkan informasi online, kombinasi ini lebih mudah ditangani.

Shanti juga mencoba merangkai Arduino yang dilengkapi dengan modul suara VS1053B. Hingga saat ini, rangkaian ini sudah bisa menyimpan file, tetapi tidak berisi suara. Kemungkinan Shanti tidak memakai modul vs1053b karena berdasarkan info yang tersedia secara online, modul ini bermasalah. Shanti akan mencoba mengganti modul VS1053 dengan PCM1808.

Pilihan lainnya adalah dengan menggunakan raspberry pi zero yang dilengkapi dengan modul suara USB. Pilihan ini adalah pilihan terakhir karena harganya cukup mahal, hanya terpaksa bila Shanti gagal menggunakan arduino/ESP32.

 


Esp32 dengan modul SDcard dan RTC

ESP32 dengan modul VS1053

Rangkaian baterai 18650. 12volt

Tampilan Boondock Echo



 



Senin, 10 Agustus 2026

Pembuatan repeater simplex sederhana (2)

Persiapan masing berlangsung, tetapi bulan Juli ini terhenti karena mempersiapkan kunjungan ke Lombok Timur, serta melakukan kunjungan selama 1 minggu.

Peralatan yang bulan lalu masih menggunakan kabel-kabel dan terlihat kacau, sekarang sudah diubah dengan menggunakan PCB dot matrix dan sudah terlihat rapih. Repeater sederhana sudah selesai, tetapi Shanti masih menemukan bahwa fungsi repeater kadang-kadang tidak berjalan baik. Shanti masih menelusuri penyebabnya. Ada kemungkinan colokan ht uv-5r bermasalah ketika sering dilakukan cabut-pasang konektor mic dan speakernya.

Peralatan penyerta sebagian sudah disiapkan:

  • Keseluruhan system akan menggunakan listrik dari baterai lithium 18650 yang dirangkai menjadi 12v. Rangkaian baterai ini sudah selesai dan tinggal dihubungkan ke system.
  • Shanti menggunakan modul LM2596 untuk mengubah listrik dari 12v. Modul ini mampu mengubah listrik 12v menjadi 3,3v, 5v, dan 7,4v. Arduino membutuhkan listrik 5v, modul lm1820 membutuhkan listrik 3,3v, dan HT baofeng uv-5r membutuhkan listrik 7,4v.
  • Keseluruhan repeater akan dimasukkan kedalam boks X5 yang berukuran 18,5 x 11,5 x 6,5cm. Baterai 18650 dan ht uv-5r berada diluar boks ini.
  • Seluruh peralatan akan dimasukkan kedalam boks lain yang lebih besar, sehingga terlindung dari panas dan hujan.

 Kegiatan untuk melanjutkan merangkai peralatan perekam komunikasi radio akan dimulai bulan Agustus, setelah kegiatan lainnya selesai.


Menggunakan PCB dot matrix

Penampakan repeater dihubungkan
ke Aki melalui LM2596



Selasa, 07 Juli 2026

Pembuatan repeater simplex sederhana

Setelah pertemuan relawan bencana ke 3 yang dilakukan pada bulan Mei 2026, Shanti mempersiapkan peralatan-peralatan untuk pertemuan berikutnya. Selama bulan Juni 2026, Shanti sepenuhnya melakukan tes-tes dengan arduino dan modul isd1820, untuk dibentuk menjadi repeater sederhana. Walaupun terlihat sederhana, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Selama proses, Shanti mendapatkan berbagai masalah, antara lain: 

  • Spesifikasi modul isd1820 disebutkan dapat digunakan dengan arus listrik 3 – 5 volt. Sehingga Shanti berasumsi modul ini dapat berbagi sumber listrik dengan arduino yang juga membutuhkan 5 volt. Ternyata selama proses, dua buah modul ISD1820 rusak, sehingga Shanti menjadi was-was dan akhirnya memisahkan sumber listrik untuk Arduino (5 volt) dan modul isd1820 (3,3 volt). Arus listrik yang keluar dari speaker HT baofeng uv-5r ternyata terlalu besar bagi modul isd1820. Sehingga akhirnya harus dibuatkan pembagi voltase dengan menggunakan 2 buah resistor. 
  • Oleh karena penggunaan sumber listrik yang berbeda bagi arduino dan isd1820, pin digital arduino tidak bias langsung disematkan pada modul isd1820. Shanti akhirnya menggunakan optocoupler 4N35 untuk memisahkan listrik arduino dan isd1820. 
  • Selama mencoba menulis kode program arduino, Shanti juga mengalami banyak kendala karena kurangnya pengetahuan tentang hal ini. Pada intinya, arduino harus mengetahui ketika ada pesan suara yang masuk, lalu menyalakan pin ‘Record’ pada isd1820. Menunggu hingga pesan suara selesai, lalu mematikan pin ‘Record’, dan menyalakan pin ‘PTT’ pada baofeng dan pin ‘Play’ pada modul isd1820. Setelah suara selesai dipancar ulang, arduino kembali menunggu hingga ada pesan suara baru. 
  • Selama melakukan tes berulang kali, 3 buah modul isd1820 menjadi rusak, sehingga Shanti harus membeli beberapa modul baru untuk meneruskan uji coba. Setelah ditelusuri, kemungkinan besar penyebabnya adalah pin mikrofon baofeng yang ternyata mengeluarkan listrik sebesar 3 volt. Padahal seharusnya pin ini tidak mengeluarkan listrik. Shanti mencoba menggunakan 3 buah kapasitor yang dirangkai seri untuk menahan arus listrik ini, tetapi masih belum sempurna karena masih ada arus listrik kecil yang masuk menuju modul isd1820. Hal ini menyebabkan fungsi modul isd1820 tidak stabil, kadang berfungsi, kadang tidak. Ketika laporan ini ditulis, Shanti masih memesan diode untuk mencoba menahan arus listrik dari pin mikrofon HT baofeng. 

Akhirnya, repeater sederhana selesai dan dapat berfungsi sesuai yang diinginkan pada awal Juli 2026. Sehingga total waktu yang dibutuhkan oleh Shanti untuk mempersiapkan repeater ini adalah sekitar satu bulan penuh. Shanti merasa puas karena dengan pengetahuan yang terbatas, dapat menyelesaikan repeater ini. Saat ini repeater masih dalam kondisi kabel-kabel yang berantakan, dan masih akan dirapihkan kedalam sebuah kotak. Sehingga masih membutuhkan waktu lagi untuk menyelesaikannya. 

 


Modul suara ISD1820

Penggabungan modul ISD1820 dan arduino nano

Simplex repeater berfungsi

 

Selasa, 07 April 2026

Persiapan pertemuan relawan kalbar ke 3

Setelah Shanti menyelesaikan prototip pertama antenna Yagi-Uda, SWR yang didapatkan adalah 1,25. Semua elemen menggunakan kawat tembaga berukuran 3mm, dengan boom menggunakan pipa PVC berukuran ½ inchi, sepanjang kira-kira 120cm. 

Walaupun begitu, ternyata prototipe antenna ini terlalu berat untuk digunakan non stop dalam waktu yang cukup lama, misalnya 5 menit. Antenna cukup panjang, sekitar 120cm, sehingga ketika dipegang dengan tangan, akan terasa melelahkan. Sehingga desain antenna harus diubah dengan menggunakan material yang lebih ringan. 

Shanti mencoba menggunakan boom dengan pipa pcv berukuran 5/8 inchi, dan ternyata cukup kuat, lebih ringan, dan tidak melengkung. Pipa aluminium berdiameter 5mm digunakan untuk semua elemen. 

Setelah dipasang elemen reflector dan director, nilai SWR menjadi sekitar 14,0. Sesuai teori, untuk menurunkan impedance, maka dibutuhkan metode hairpin dengan kabel. Setelah proses mencari panjang kabel yang dibutuhkan, akhirnya diperoleh panjang kabel hairpin yang menunjukkan nilai SWR sekitar 9,0. Ini adalah nilai SWR yang paling rendah yang didapatkan. 

Sementara, teorinya mengatakan harus mendapatkan SWR dibawah 2, lalu dilakukan tuning dengan cara memotong panjang semua elemen secara bertahap. Sampai titik ini, Shanti kecewa karena tidak bias mendapatkan nilai SWR yang rendah.

Ternyata, setelah Shanti tetap mencoba melakukan pemotongan panjang elemen-elemen, nilai SWR langsung menurun, hingga akhirnya menyentuh 1,2. Artinya proses pembuatan antenna Yagi sudah selesai dan Shanti sudah mengerti proses pembuatannya.

Pipa aluminium berdiameter 5mm ini cocok untuk antena Yagi-Uda yang portabel karena ringan dan tidak mudah patah. Pada prototipe yang pertama, menggunakan kawat tembaga berukuran 3mm, ternyata bautnya mudah patah. Ini akan mempersulit dilapangan, bila tiba-tiba patah ketika akan digunakan.

Kamis, 05 Februari 2026

Persiapan pertemuan relawan bencana

 Selama bulan Januari 2026, Shanti menyiapkan rencana pertemuan berikutnya untuk relawan bencana.

Yang pertama dilakukan adalah mencoba menyiapkan repeater duplex sederhana. Sistim ini terdiri dari dua buah HT Baofeng UV-5R yang dihubungkan dengan kabel buatan sendiri. Uji coba ini tidak mengalami kendala dan sudah selesai dilakukan, sehingga Shanti yakin sistim ini dapat digunakan dilapangan bila melakukan aktivitas penanggulangan bencana. 

Yang kedua adalah mencoba menyiapkan sistim repeater simplex sederhana. Sistim ini menggunakan satu buah HT Baofeng UV-5R dan modul repeater simplex. Ketika HT menerima pesan, modul repeater akan merekam pesan tersebut. Ketika selesai, pesan akan diputar ulang oleh modul repeater dan dipancakan ulang oleh HT. Repeater simplex dapat berfungsi dengan baik.

Yang ketiga adalah memulai dan mencoba proses pembuatan antenna Yagi-Uda versi portable. Antena ini adalah jenis antenna directional, sehingga dapat membantu ketika jarak titik komunikasi terlalu jauh untuk dijangkau oleh HT dengan antena flower pot. Desain antenna Yagi uda sebetulnya mudah didapatkan/dihitung, tetapi untuk merubahnya menjadi versi portable ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Shanti mencoba menggunakan pipa pvc ½ inchi sebagai ‘boom’, dan kawat tembaga ukuran diameter 3mm sebagai elemen-elemennya. Hingga saat ini, percobaan-percobaan masih dilakukan.

Yang keempat, Shanti mencoba untuk membuat antenna dari kain Faraday. Kain ini dipotong membentuk antenna Jpole, lalu dijahit ke tali webbing berukuran lebar 5cm. Bila ini berhasil, antena Jpole ini akan sangat mudah untuk dibawa-bawa. Hingga saat ini percobaan-percobaan masih dilakukan.
 

Kamis, 08 Januari 2026

Pelatihan 2 Relawan bencana kalbar

Shanti memberikan pelatihan relawan pada tanggal 21 – 22 November 2025 di PPMT Ngarak, Kalimantan Barat. Pelatihan ini merupakan kelanjutan dari pelatihan pertama yang diadakan pada Bulan Juli 2025 lalu.

Pada pelatihan kedua ini, pembuatan antena flower pot yang dilakukan pada pelatihan pertama, diulang karena kegagalan ketika itu, yang disebabkan penggunaan resin polyesther (karena ketika itu Shanti tidak dapat menemukan penjual resin epoxy di Pontianak). Shanti berhasil menemukan penjual resin Epoxy di pontianak, yang dijual sebagai lem pada toko yang menjual alat pancing.

Masing-masing peserta pelatihan berhasil membuat antena flower pot hingga selesai, dan berfungsi dengan baik. Antena di uji coba dan berfungsi dengan sangat baik.

Pada kesempatam ini, Shanti juga mencoba menaikkan antena Jpole ke atas pohon dengan menggunakan ketapel dan tali. Antena ini dihubungkan dengan Rig Icom, dan digunakan untuk menguji coba komunikasi dengan HT yang menggunakan antena flower pot.

 


Peserta sedang membuat antena

Walaupun uzur, tetap semangat

Antena flower pot sedang
dikeringkan setelah difiksasi
dengan resin epoxy

Peserta sedang mengukur SWR

Peserta pelatihan

Rabu, 08 Oktober 2025

Survey Endline di Lombok (2)

Pada bulan ini Shanti masih dalam proses menyelesaikan laporan survey Endline di Lombok. Revisi kedua sudah dikirimkan, dan Shanti masih menunggu feedback untuk perbaikan berikutnya. Laporan internal juga sudah diselesaikan pada bulan ini.

 


Pelatihan enumerator

Pelatihan enumerator

Peserta FGD di Sembalun

Peserta FGD di Pringgabaya

Tim survey

Rabu, 10 September 2025

Survey Endline di Lombok

Pada tanggal 12 – 27 Agustus 2025, Shanti berkunjung ke Lombok untuk melakukan beberapa hal, sehubungan dengan kerja sama dengan WVI. 
 
Pada tanggal 14 – 15 Agustus, Shanti membantu WVI untuk melakukan FGD dengan kelompok ibu-ibu peserta kelas kilat, yang dilakukan oleh WVI, dan kelompok peserta pelatihan content creator. FGD ini dilakukan di kecamatan Sembalun dan Pringgabaya. 
  
Pelatihan enumerator untuk survey LQAS dilakukan pada tanggal 19 – 20 Agustus, di aula Puskesmas Sembalun. 10 orang enumerator mengikuti kegiatan di kelas dan testing disebuah dusun didekat Puskesmas Sembalun.
 
Survey dilakukan pada tanggal 21 – 23 Agustus 2025 di 3 desa di kecamatan Sembalun dan 3 desa di kecamatan Pringgabaya. Secara keseluruhan, survey berlangsung dengan baik. Pada tanggal 23 Agustus, Shanti juga membantu WVI untuk melakukan FGD bersama dengan kelompok peserta kegiatan disabilitas yang dilakukan oleh WVI. Shanti masih menyelesaikan laporan survey LQAS. 

Senin, 11 Agustus 2025

Pelatihan 1 Relawan bencana kalbar

Shanti berkunjung ke Kalbar pada tanggal 1 – 6 Juli 2025. Pelatihan pertama bagi relawan bencana kalbar dilakukan selama dua hari di Ngarak.
 
Sebelum pelatihan, Shanti mencoba mencari resin epoxy di Pontianak, tetapi hanya menemukan 1 buah toko kimia yang menjualnya, dan hanya bisa membeli minimal 1 kilogram. Jumlah ini sangat banyak dan harganyapun cukup mahal. Akhirnya Shanti memutuskan mencoba resin polyesther untuk pelatihan karena mudah ditemukan di Pontianak dan berharga murah. 
 
Ternyata resin polyesther tidak dapat digunakan untuk rangkaian elektronik karena membuat arus pendek. Sehingga antenna yang dibuat oleh peserta ternyata menjadi korslet dan nilai SWR melonjak tinggi. Ini merupakan pembelajaran untuk Shanti, supaya tidak menggunakan resin polyesther untuk rangkaian elektronik.
 
Pelatihan hari pertama mengajak peserta untuk membuat antena flower pot. Semua peserta berhasil membuat sendiri antenanya, dan mendapatkan nilai SWR <1,5. Tetapi setelah menggunakan resin polyester untuk fiksasi antena, ternyata resin menghasilkan panas yang berlebihan dan  membuat pipa pvc melengkung. Peserta berusaha untuk meluruskan kembali pipa-pipa pvc antenanya.
 
Pada hari kedua, antena yang sudah difiksasi dengan resin polyesther, di tes tembali. Ternyata resin tersebut membuat korslet antena, sehingga nilai SWR langsung melonjak tinggi. Antena-antena tersebut akhirnya tidak dapat dipakai. 
 
Pelatihan dilanjutkan dengan membuat kabel penghubung antara HT dan HP. Semua peserta berhasil menyelesaikan kabelnya masing-masing. Proses dilanjutkan dengan melakukan tes komunikasi dan tes aprsdroid. Semua tes dapat dilakukan dengan baik, termasuk pengiriman dan penerimaan pesan text melalui aprsdroid.
 
Pelatihan berikutnya direncanakan dilakukan pada sekitar bulan November-Desember 2025.
 

Peserta sedang menyolder

Peserta sedang merangkai kabel

Menunggu resin kering

Testing antena



Kamis, 26 Juni 2025

Pembentukan relawan bencana Kalbar

Shanti mencoba beberapa kali menawarkan ke beberapa pihak untuk membentuk kelompok relawan bencana, dan semuanya gagal. Sangat sulit untuk mencari orang-orang yang berminat.

Pada bulan lalu, Shanti mencoba membentuk kelompok relawan bencana di Kalbar. Anggota kelompok ini adalah bekas staf WVI di Pinyuh, dan ternyata ada 10 orang yang tertarik untuk bergabung. Diharapkan kelompok ini akan berkembang seiring dengan berjalannya waktu.

Kelompok ini akan belajar bersama untuk mempersiapkan sistim informasi yang handal ketika melakukan aktifitas penanggulangan bencana. Inti dari sistim ini adalah penggunaan APRS (Automatic Packet Reporting System) dan komunikasi radio, yang dipadukan dengan software Sartrack

Penggunaan sistim tersebut tidak bisa dikerjakan sendiri, harus bekerja sama dengan pihak - pihak lain di lapangan. Sistim informasi yang terbentuk, akan dapat diakses oleh semua pihak dilapangan. Sistim ini diharapkan dapat melancarkan arus informasi diantara pihak-pihak dilapangan, yang akhirnya dapat mempersingkat waktu untuk merespon kebutuhan dilapangan. 

Kelompok relawan ini akan rutin bertemu dan melatih diri, sehingga semua anggota mampu menjalankan seluruh sistim dengan baik.

Pertemuan pertama akan dilakukan di awal bulan Juli 2025.

Senin, 09 Juni 2025

Proses pembuatan antena Flower Pot

Shanti bulan ini mencoba meneruskan pembuatan antenna flower pot. Setelah dicoba beberapa kali, Shanti menemui kegagalan karena SWR yang didapatkan di kisaran angka 7-8. Ternyata terjadi gangguan pada konektor PL yang menghubungkan antenna dan SWR meter.
 
Setelah konektor ini diganti, nilai SWR menjadi turun. Oleh karena antenna versi pertama sudah di modifikasi berkali-kali, maka ukuran antenna sudah meleset jauh dari seharusnya. Sehingga Shanti membuat versi baru, dan ternyata SWR yang didapatkan dikisaran 1,5. Antena ini memiliki SWR < 1,5 pada frekuensi 141 – 154 MHz.
 
Panjang keseluruhan antenna flower pot ini adalah 117,5cm, dengan bagian atas berupa kawat sepanjang 48,5cm. Panjang antenna ini masih dapat diperpendek dengan memotong bagian bawah pipa pvc yang digunalan.
 
Shanti menggunakan pipa pvc berukuran 5/8 dan ½ inchi sebagai rangka antenna. Pada bagian atas, batas antara kawat dan kabel RG58, shanti menggunakan resin untuk memegang kawat didalam pipa pvc. Sehingga, kawat tidak akan berubah posisi ketika digunakan dilapangan. SWR diperiksa kembali setelah pembuatan antenna selesai dan ditambahkan resin secukupnya, SWR hanya berubah sedikit. Ukuran antenna ini jauh lebih pendek daripada antenna Jpole ataupun Slimjim yang biasa dibuat Shanti. Ketiga antenna ini: Jpole, Slimjim, dan flower pot, adalah antenna ½ lamda, yang artinya tidak membutuhkan ground untuk berfungsi.
 
Ketika dicoba dipakai di ransel, ukuran antenna terasa pas, pengguna dapat berjalan dengan bebas tidak terganggu dengan keberadaan antenna. Ujung antenna yang terbuat dari kawat nitinol berada diatas kepala pengguna. Ujung atas antenna berada sekitar 40-50 cm diatas kepala pengguna. Berat antenna sangat ringan, sehingga tidak memberikan beban tambahan signifikan bagi penggunanya.
 
Oleh karena akan menggunakan kawat nitinol super elastic yang berdiameter 1mm, maka pengguna dapat menerobos dahan-dahan tanpa kuatir dengan antenna. Kawat nitinol akan melengkung sesuai dengan dahan yang diterobos, dan akan lurus kembali setelah melewati rintangan.
 
Penggunaan antenna ini dipastikan jauh lebih baik daripada menggunakan antenna kecil bawaan dari HT. Sehingga jangkauannya juga akan lebih jauh. Untuk stasiun bergerak akan membawa antenna flower pot dilengkapi dengan HT, sehingga dapat berkomunikasi. Untuk pemakaian Sartrack, stasiun bergerak dapat menghubungkan HT dengan Aprsdroid pada HP androidnya.
 
 
 

Menghubungkan HT dan HP android

Antena Flower Pot

Tes antena flower pot dengan ransel



 
 
 
 
 
 
 

Senin, 12 Mei 2025

Usaha untuk memperbaiki tepung superflour (2)

Shanti mencoba cetakan kue sagon dengan tepung ini. Ternyata hasilnya cukup memuaskan.
 
Cara ini dapat dianggap sebagai cara yang paling murah untuk bentuk alternatif tepung superflour. Kekerasan kue bisa diatur, sehingga aman untuk transportasi. Bahan yang dibutuhkan adalah tepung superflour ditambah dengan gula secukupnya. Jumlah perbandingan gula masih harus diuji coba kembali untuk mencari perbandingan yang sesuai.
 
Memang rasa kue bukan menjadi tujuan utama, sehingga Shanti tidak berniat untuk menambahkan bahan-bahan lain untuk memperbaiki rasa. Tujuan utamanya adalah menurunkan harga serendah mungkin, dengan rasa yang dapat diterima anak-anak.
 
Kesulitan utama adalah membuat kue dengan tingkat kekerasan yang sama. Proses ini dilakukan manual, sehingga bergantung pada tekanan tangan yang kita berikan ketika mencetak kue. Sehingga sulit untuk membuat kue yang seragam.
 
Oleh karena itu, bila akan diproduksi dalam jumlah banyak, akan dibutuhkan mesin untuk proses pencetakan kue, supaya seluruh kue mempunyai tingkat kekerasan yang sama.
 
 

Persiapan sebelum dipanggang

Kue sedang dipanggang

Hasil akhir


Rabu, 09 April 2025

Usaha untuk memperbaiki tepung superflour

Shanti mencoba berbagai cara untuk merubah tepung superflour menjadi bentuk yang lebih menarik dan cukup kuat untuk proses pengiriman.

Yang dilakukan pertama adalah dengan menambahkan santan kedalam tepung, sehingga menjadi adonan basah yang dapat dicetak. Cara ini cukup baik, tetapi rasanya menjadi kurang enak, dan bila terlalu keras ditekan pada cetakan, hasil akhirnya menjadi sangat keras.

Cara berikutnya adalah dengan menambahkan kelapa parut yang sudah disangrai kedalam tepung, sehingga adonan tetap kering. Lalu dicetak. Cara ini kelihatannya lebih baik, karena hasil akhirnya menjadi lebih enak. Walaupun begitu, bentuk akhirnya sangat rapuh dan mudah hancur, sehingga tidak akan tahan untuk proses pengiriman.

Cara berikutnya adalah dengan tetap menggunakan adonan kering tetapi dicetak dengan menggunakan cetakan kue satoe. Hasilnya cukup baik, tetapi tidak bisa ditekan terlalu keras karena hasilnya akan keras seperti batu. Sementara bila ditekan perlahan, hasilnya empuk tetapi mudah hancur.

Shanti akan mencoba lagi dengan cetakan kue sagon. Seharusnya masih dapat ditekan cukup keras, hasil akhirnya akan lebih tipis sehingga diperkirakan tidak mengeras seperti batu.

 

Menggunakan oven

Cetakan kue Satoe
Hasil percobaan