Selasa, 08 Desember 2020

Peliharaan baru

Bulan November ini, Shanti tidak berkunjung ke lapangan karena situasi Covid-19 yang memburuk. Kemungkinan besar bulan Desember Shanti juga belum berkunjung ke lapangan. Shanti sedang menyiapkan pelatihan listrik tenaga air yang akan dilakukan pada bulan Januari 2021. 
 
Pada pertengahan bulan November, seseorang meninggalkan anak kucing didepan kantor. Karena masih terlalu kecil dan tidak bisa mencari makan sendiri, maka akhirnya dipelihara dikantor. Dan kami semua harus beradaptasi dengan keberadaan anak kucing ini. Sehingga bulan ini pekerjaan bertambah dengan mengurus si kecil yang lucu.
 
Kami juga mencoba membuat video singkat perjalanan kami mempelajari listrik tenaga matahari. Tidak terasa, kami sudah belajar selama satu tahun, dan masih tetap harus belajar lagi.



Kalau sudah begini, terpaksa menunggu

Si kecil yang lucu




Kamis, 05 November 2020

Memperbaiki Sistim Solar di Rumah Pelangi

Pada tanggal 19 – 25 Oktober, Shanti berkunjung ke rumah pelangi. Perbaikan seluruh sistim dilakukan dengan cara memasang dudukan baru untuk solar panel, mengganti semua kabel-kabel beserta konektornya, mengganti kontroler dan inverter, mengganti aki, serta membuat grounding.

Solar panel yang dipakai adalah yang sudah tersedia di rumah pelangi, disusun hingga menghasilkan listrik 24-40 volt dan daya 1.000 watt. Kontroler yang dipasang adalah tipe MPPT dengan kapasitas 40 ampere. Inverter yang dipasang adalah 24 volt berdaya 1.000 watt. Aki yang dipasang adalah 2 buah aki Luminous 12 v 200AH yang disusun serial, sehingga totalnya menjadi 24 volt 200AH.

Bila terkena sinar matahari dengan baik, seluruh susunan solar panel tersebut mampu mengisi kedua aki diatas dalam waktu 3 jam. Listrik yang tersedia bagi rumah pelangi adalah 2.160 WH. Yang artinya dapat menyalakan sekitar 36 buah lampu 5 watt selama 12 jam.

Apabila rumah pelangi melakukan pemangkasan pohon-pohon disekitar lokasi solar panel dengan baik, susunan solar panel tersebut masih mampu mengisi tambahan dua buah aki, dengan spesifikasi sama, yang baru. Sehingga listrik yang tersedia menjadi dua kali lipat dari yang terpasang saat ini.

Semua proses berjalan baik, tim Shanti menginap semalam untuk memastikan semuanya berfungsi, dan setelah itu baru kembali ke Jakarta. Pada saat ditinggal, semua sistim berfungsi dengan baik.

Shanti akan menunggu 2-3 bulan untuk melihat masalah yang muncul, serta menyediakan waktu yang cukup bagi Rumah pelangi untuk melakukan pemangkasan pohon-pohon yang menghalangi sinar matahari. Apabila semua berjalan dengan baik, Shanti akan kembali lagi untuk meningkatkan kapasitas sistim yang sekarang terpasang. 


Panel yang ada dilepas semua

Setelah panel diturunkan,
satu per satu diperiksa

Panel dibuatkan dudukan baru
>
Panel dipasang ke dudukan baru.
Kabel-kabel dirangkai ulang
dengan kabel baru

Panel surya dan kabel-kabel selesai dipasang

Memasang dan merapihkan grounding

Memasang dan menyusun Kontroler,
inverter, sekring, dll

Mengganti aki yang lama dengan
2 buah Aki VRLA 12v 200AH

Setelah selesai, semua bisa tersenyum

Ada yang senang mendapat teman baru

Rabu, 07 Oktober 2020

Menghidupkan kembali APRS IGate

Karena PSBB, Shanti menggunakan waktu untuk berlatih diri membuat antenna sederhana. Dua buah antenna berhasil diselesaikan. Antena yang pertama akan digunakan di frekuensi 144.390 MHz untuk kebutuhan Igate APRS. Antena yang kedua digunakan untuk komunikasi suara.

Kedua antenna ini adalah tipe Slim Jim, desain antenna didapatkan dari situs web. Masing-masing ntenna menggunakan pipa paralon ukuran ¾ inchi, sepanjang 2 meter, ditambah kabel bekas kira-kira sepanjang 2,5 meter. Semuanya dirangkai sesuai dengan ukurannya.

Setelah selesai, tahapan berikutnya adalah menentukan titik lokasi pemasangan kabel RG58. Titik lokasi ini diperoleh dengan menggunakan SWR meter, mencari titik dengan SWR terendah (dibawah 1,5) pada frekuensi yang diinginkan. Setelah titik didapatkan, ujung kabel RG58 disolder pada antenna. Dan akhirnya antenna dipasang diatas tiang, dihubungkan ke radio dengan menggunakan kabel RG8.

 


Shanti menggunakan HT Baofeng UB-V5, raspberry pi 2 beserta USB soundcard dan 8GB sdcard untuk membuat stasiun penerima APRS. Semua peralatan dihubungkan dengan kabel buatan sendiri. Sinyal suara dari antenna disalurkan melalui kabel menuju radio. Suara dilanjutkan dari radio menuju soundcard, dan akhirnya diterima oleh Raspberry Pi. Sinyal suara ini akan diolah oleh program di Raspberry pi, dan lalu dikirimkan ke internet melalui Wifi.

Software yang digunakan adalah Direwolf karena dari beberapa kali percobaan, software ini yang paling mudah digunakan dibandingkan cara lain. Petunjuk instalasi dan penggunaan software Direwolf dapat ditemukan pada situsnya, tersedia juga dokumen khusus untuk Raspberry pi.

Instalasi Direwolf tidak berjalan mulus. Setelah mencoba beberapa hari dengan semua cara yang diketahui Shanti, ternyata gagal untuk memasang Direwolf tanpa versi desktop. Versi non Desktop awalnya dipilih karena lebih ringan untuk raspberry pi. Karena gagal, maka Raspbian versi desktop dipasang pada Raspberry, dan seluruh proses instalasi Direwolf berjalan lancar.

Setelah terpasang dengan baik, maka proses selanjutnya adalah mengatur program Direwolf untuk mengenali soundcard, callsign beserta passcode, server APRS, pengaturan volume, dan beberapa hal lainnya. Setelah selesai, Shanti melakukan tes, semua berjalan dengan baik. Hingga laporan ini ditulis, sistim ini masih dinyalakan dan dilihat apakah ada masalah yang muncul. IGate ini menggunakan callsign YD0PVI-13, dan dapat dilihat pada situs aprs.fi.

Shanti sejak dulu tertarik dengan APRS karena sangat berguna ketika terjadi bencana. Sistim ini digabung dengan sistim komunikasi radio, akan jauh mempermudah penanganan bencana. Software penanganan bencana yang saat ini terbaik dan gratis, dengan melibatkan APRS adalah Sartrack. Shanti sangat ingin berlatih diri menggunakan Sartrack dengan seluruh kemampuannya, tetapi hingga saat ini belum menemukan pihak-pihak yang tertarik untuk besama-sama berlatih. Walaupun begitu semua staf Shanti dan pihak yang sering membantu dilapangan semuanya sudah memiliki Callsign, salah satu syarat penting untuk menggunakan APRS.

Selasa, 08 September 2020

Survey ke Rumah Pelangi

Tim Shanti pergi Kalimantan Barat untuk mengumpulkan informasi tentang kebutuhan serta kendala yang ada di kawasan Rumah Pelangi pada tanggal 6 - 9 Agustus 2020.

Rumah Pelangi bertempat di Dusun Benuah, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat. Tepatnya didalam area Hutan Lindung yang dikelola oleh komunitas Ordo Kapusin (OFMCap) dengan Luas Hutan mencapai 90 Hektar Are. Kawasan ini juga sering digunakan untuk kegiatan retreat maupun kegiatan pembelajaran ekologis oleh para pelajar.

Pada tahun 2013 Rumah Pelangi mendapatkan penghargaan kalpataru dari pemerintah RI karena keberhasilannya menghijaukan kembali wilayah tersebut yang dahulunya adalah Hutan yang sudah gundul. Rumah pelangi merupakan kawasan konservasi contoh yang keberadaannya sangat penting untuk dijaga sehingga Shanti berencana untuk membantu sebisa mungkin kebutuhan prioritas yang dibutuhkan disana khususnya kebutuhan listrik.

Ketika berkoordinasi dengan relasi disana, Shanti mendapati bahwa kendala utama mereka adalah masalah ketersediaan arus listrik, dimana tidak ada akses listrik PLN yang melewati daerah tersebut dan signal telepon seluler juga sangat minim sehingga tim akhirnya harus turun langsung mengecek keadaan dilapangan.

Jarak tiang listrik terakhir yang Shanti temui sepanjang jalan Trans kalimantan yaitu berjarak kurang lebih 1,2 km dari cabang masuk ke Rumah Pelangi, ditambah jarak cabang masuk ke Rumah Pelangi masih sekitar 820 meter sehingga jarak total sekitar 2 km dimana akan membutuhkan biaya yang sangat besar jika dipaksakan untuk dipasang listrik PLN.

Sebelumnya, rumah pelangi telah mempunyai panel tenaga surya sumbangan pemerintah Namun karena sudah lama tidak terawat dengan baik sehingga daya yang dihasilkan sudah tidak maksimal dimana dalam sehari, lampu hanya bisa menyala selama 4-5 jam. Ketika tim melakukan pengecekan ke atap garasi, tim menemukan terdapat 9 panel diantaranya 8 buah panel daya 100watt dan 1 buah panel dengan daya 200watt sehingga total daya yang dihasilkan seharusnya adalah 1000 watt.

Posisi panel saat ini berada ditempat yang tidak terpapar sinar matahari penuh. Sinar matahari yang terkena secara maksimal hanya sekitar 4 jam (sekitar jam 10 – jam 2 sore) saja karena tertutupi oleh pohon-pohon yang tinggi di sisi bagian timur dan barat rumah pelangi.

Perkabelannya juga kelihatan tidak terinstalasi dengan baik dan tidak sesuai standar/spesifikasi. Tipe kontroler yang dipakai adalah kontroler versi murah / biasa tipe PWM. Sedangkan rekomendasi kontroler yang dipakai pada panel berdaya besar harus yang berkualitas baik seperti kontroler tipe MPPT. Aki yang digunakan juga aki mobil biasa berjumlah 4 buah sehingga persentase pemakaiannya tidak maksimal.

Rumah pelangi mempunyai Genset besar namun pemakaian bahan bakar solarnya sangat besar. Jika menghidupkan genset selama 2 jam maka solar yang dibutuhkan adalah kurang lebih 2 sampai 2,5 liter. Posisi genset berada diruangan yang sama dengan dengan kontroler dan sering digunakan jika ada  kegiatan-kegiatan dirumah pelangi karena fungsi tenaga surya yang belum maksimal.

Ada beberapa lokasi yang bisa dipakai untuk menempatkan solar panel agar bisa mendapatkan sinar matahari yang cukup antara lain :

1. Tempat Panel lama (Diatas Garasi Mobil)
Tempat panel lama sebenarnya berada di ruang yang cukup baik namun seiring bertambah tingginya pohon-pohon dibagian barat (dibelakang bangunan) maka sinar matahari tertutup ketika lewat dari pukul 14 Wib. Jika tempat ini tetap dipakai sebagai lokasi panel, jalan satu-satunya adalah dengan memangkas beberapa pohon tinggi yang menghalangi paparan sinar matahari tersebut dan posisi serta kemiringan panel harus diatur ulang. Tempat aki dan kontroler berada langsung diruangan bawah atap dan terlindung dengan aman.

2. Halaman kosong bagian selatan Rumah Pelangi
Ketika melakukan survei, halaman kosong samping rumah pelangi juga merupakan tempat yang baik dimana panel dapat dipapari oleh sinar matahari pagi sampai sore sehingga akan lebih efektif namun kenadalanya adalah harus didirikan tiang baru untuk panel dan sebuah ruangan baru atau box panel sendiri untuk menyimpan aki, kontroler dan peralatan lainnya. Jika tidak menggunakan box panel maka harus dibuatkan sebuah ruangan khusus untuk ruang kontrol. Namun karena halaman ini sering dipakai ketika ada kegiatan retreat dll, maka jika ingin menggunakan lokasi ini maka panel harus diatur sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu aktivitas jika sewaktu-waktu ada kegiatan besar yang dilakukan dihalaman tersebut.

3. Tower air bagian belakang Rumah Pelangi
Salah satu tempat yang kemungkinan bisa dipakai yaitu atap tower air bagian belakang Rumah pelangi. Ketinggiannya kurang lebih 22m dan ada kemungkinan untuk bisa dipakai namun harus ada beberapa pohon dibagian belakang yang harus dipangkas sehingga tidak menghalangi cahaya matahari sore hari. Ukuran atap tower ini belum diukur luasannya namun kelihatan cukup untuk menampung panel yang lama.

4. Atap Rumah Utama (Rumah Pelangi)
Posisi panel yang dianggap paling baik adalah dibagian atas atap rumah utama dimana sinar matahari tidak terhalang objek apapun dari pagi hingga sore hari namun kesulitannya yaitu ketinggian atap yang mencapai ± 22 Meter sehingga akan sulit jika dilakukan pemasangan. Jika panel tetap dipasang ditempat ini maka harus dibuatkan ruang kontroler dan aki disalah satu bagian rumah karena jaraknya ke ruang kontrol sekarang lumayan jauh.

Saat ini diskusi masih berlangsung untuk menentukan lokasi solar panel yang baru.



Rumah Pelangi tampak depan

Lokasi solar panel saat ini

Ruang genset dan perangkat solar set

Atap rumah utama sebagai alternatif
lokasi solar panel

Kebun sebagai alternatif lokasi solar panel

Tower Air sebagai alternatif
lokasi solar panel

Ada lokasi perkemahan juga
Video Rumah pelangi, dibuat oleh pihak lain

Jumat, 07 Agustus 2020

Revisi ulang desain lampu sederhana

Bulan ini syarat SIKM dicabut, sehingga masyarakat bisa bepergian lebih mudah. Shanti merencanakan survey ke Rumah Pelangi di Kalimantan Barat, untuk melihat kebutuhan listrik disana dan mengumpulkan informasi. Setelah itu, Shanti akan memutuskan apakah bisa membantu atau tidak.

Sambil menunggu waktu bepergian ke KalBar, Shanti meninjau ulang desain lampu sederhana yang dibuat bulan lalu. Beberapa perbaikan dilakukan dan akhirnya menemukan desain yang lebih baik.

Perbaikan-perbaikan ini akan berlangsung terus menerus untuk mendapatkan desain yang lebih baik, harga yang lebih murah, dan disukai pengguna. Perbaikan kali ini dilakukan dengan menggunakan kotak yang sama.

Akhrinya, dengan menggunakan kotak yang sama, tempat baterai bisa masuk. Tempat baterai sangat berguna bagi pemakai untuk memudahkan memasang/mengganti baterai 18650 diwaktu yang akan datang.

Solar panel masih sama dengan bulan lalu, tetapi ada perubahan sedikit supaya terlihat lebih baik. Fungsi charge dan kabel-kabelnya masih tetap sama dengan bulan lalu.


Senin, 06 Juli 2020

Revisi Lampu Solar Panel Sederhana

Sudah beberapa bulan terakhir ini PSBB masih berlangsung, sehingga Shanti tidak bisa bekerja dilapangan. Shanti menggunakan waktunya untuk melakukan kegiatan di kantor.

Shanti bereksperimen untuk menemukan bentuk ideal bagi lampu solar panel sederhana. Dari beberapa uji coba, ditemukan bahwa rangkaian lampu sederhana tersebut dapat dimasukkan kedalam kotak plastic berukuran 10x6x2,5cm. Sementara solar panelnya dirangkai terpisah. Dengan cara ini, maka lampu dapat dijual terpisah dengan solar panelnya.

Untuk charge baterai, dapat menggunakan kepada charger HP, dengan menyediakan kabel khusus. Satu ujung kabel menggunakan konektor USB male, sementara ujung satunya menggunakan konektor DC biasa. Dengan kabel khusus ini, pengguna dapat melakukan charge baterai melalui kepala charger HP, tanpa membutuhkan solar panel.

Solar Panel dibuat dengan menggunakan triplek ukuran 4mm, beserta 10 buah solar sel berukuran 52x52mm, dan sebuah konektor DC female disebuah pojok. Keseluruhannya, solar panel ini berukuran 30x15cm. Listrik yang dihasilkan adalah 5volt dan 0.9 ampere.

Solar panel ini dapat dihubungkan ke kotak lampu diatas dengan menggunakan sebuah kabel khusus. Masing-masing ujung kabel diberi konektor DC male.

Shanti masih melakukan uji coba supaya dapat menemukan kotak yang paling baik dan murah, serta memperbaiki rangkaian elektronik didalam kotak tersebut. Saat ini kotak berukuran 10x6x2,5cm tersebut dapat menampung dua buah baterai 18650, tanpa tempat baterai. Shanti masih mencari tempat baterai 18650 paralel yang dapat masuk kedalam kotak yang sama, sehingga akan memudahkan pengguna untuk mengganti baterai.



Tampak belakang

tampak atas

Colokan DC female, jadi lebih rapih

Solar panel tampak atas

Solar panel tampak belakang

Colokan solar panel - lampu

Colokan lampu - charger HP

Isi lampu




Rabu, 03 Juni 2020

Uji Coba Peltier untuk penyediaan air bersih

Peltier adalah perangkat generator listrik yang mengkonversi panas (perbedaan suhu) langsung menjadi energi listrik, menggunakan fenomena yang disebut efek Seebeck (bentuk efek termoelektrik). Jika material termoelektrik dialiri listrik, panas yang ada di sekitarnya akan terserap. Dengan demikian, untuk mendinginkan udara, tidak diperlukan kompresor pendingin seperti halnya di mesin-mesin pendingin konvensional. Peltier sering digunakan pada pendingin/cooler untuk dikendaraan.

Ide awalnya adalah untuk merubah air yang ada diudara menjadi air melalui kondensasi dengan menggunakan Peltier. Bila air yang dihasilkan cukup banyak, ide ini dapat menyediakan air bersih ditempat yang tidak mempunyai sumber air.

Sistim ini tidak sulit untuk dibuat. Hanya membutuhkan 1 buah peltier, 2 buah heatsink, dan 1 buah aki yang cukup. Heatsink yang lebih besar berfungsi untuk menghalau panas dari 1 sisi peltier, sehingga membutuhkan kipas. Heatsink yang lebih kecil berfungsi untuk kondensasi udara.

Uji coba dilakukan, dan Shanti  menunggu selama 1 jam untuk melihat hasilnya. Peltier berfungsi, dan air dihasilkan dari uji coba ini. Walaupun begitu, air yang dihasilkan selama 1 jam adalah sekitar 2 sendok makan. Jumlah ini terlalu kecil bila dibandingkan dengan listrik yang digunakan dan waktu untuk memperolehnya.Memang uji coba ini bisa diperbaiki lagi, misalnya dengan meletakkan sistim didalam kotak sterofoam, atau menambah 2-3 peltier, tetapi hasil akhirnya juga tidak akan cukup besar untuk kebutuhan 1 hari untuk 1 keluarga.

Kesimpulannya adalah, kondensasi dengan peltier memang berfungsi, tetapi jumlah air yang dihasilkan tidak sesuai dengan waktu dan listrik yang digunakan.

Memang dipasaran tersedia alat dehumidifier yang menggunakan refrigerant, berfungsi seperti seperti kulkas. Alat ini bisa menghasilkan air sebanyak 25 liter per hari, dengan listrik sekitar 300 watt. Jumlah air yang dihasilkan cukup banyak untuk kebutuhan 1 hari didaerah yang kering tidak ada sumber air lain. Walaupun begitu, alat tersebut membutuhkan listrik yang sangat besar, 3.600 watt per 12 jam. Sistim solar yang menghasilkan listrik sejumlah itu akan berharga sangat mahal, sehingga tidak efisien dan efektif.

Kesimpulan akhir, tehnik kondensasi bila ingin digunakan dilapangan, lebih baik menggunakan tehnik manual, misalnya, membentangkan jaring untuk menangkap embun dipagi hari. Tehnik ini bisa juga menghasilkan air sesuai dengan ukuran jaringnya dan tidak membutuhkan listrik.

Cara lain yang lebih fisibel adalah dengan menampung air hujan. Tampungan disesuaikan supaya cukup besar untuk kebutuhan dimusim kemarau.



dua buah heatsink, kipas,
dan baterai

Peltier (berwarna putih, diapit
oleh 2 buah heatsink.

Hasil air selama 1 jam.

Senin, 04 Mei 2020

Menyelesaikan rangkaian solar sistem berukuran cukup besar

Rangkaian solar sistim ini berukuran cukup besar untuk Shanti, menyediakan listrik sebesar 1.200 watt per hari. Solar panel berukuran 350 watt sudah terpasang diatas tiang. Panel ini kira-kira berukuran satu lembar triplek (250 x 110 cm). Rangkaian kontroler dan inverter juga sudah terpasang. Ketika laporan ini ditulis, tes sudah dilakukan beberapa hari dan tidak ditemukan masalah. Lampu-lampu sudah menyala seperti yang diinginkan, baik lampu LED DC maupun AC.

Kontroler yang digunakan adalah tipe MPPT dengan kapasitas 20 Ampere. Sementara Inverter yang digunakan adalah tipe pure sine wave dengan kapasitas 2.000 watt. Aki yang digunakan adalah 12 volt dengan kapasitas 100 AH.

Selama tes beberapa hari, pengisian aki sesuai dengan yang diinginkan, yaitu selama 3 jam. Walaupun kondisi mendung, pengisian aki juga masih berlangsung tetapi dalam waktu yang lebih lama. Shanti akan menambah satu aki lagi yang akan disusun parallel, keduanya seharusnya masih bisa terisi penuh dalam waktu 1 hari. Bila tidak ada masalah, maka listrik yang tersedia akan lebih besar lagi.

Beberapa pembelajaran dari seluruh proses selama ini:
  • Kualitas hasil solderan pada solar sel sangat penting. Apabila tidak dilakukan dengan baik, maka solar panel akan membutuhkan perbaikan yang cukup sering.
  • Tutup panel dapat menggunakan akrilik atau policarbonat, tetapi ketebalan sebaiknya antara 3-4mm. Shanti menggunakan policarbonat dengan ketebalan sekitar 1,5mm, dan ternyata terlalu tipis sehingga permukaannya bergelombang, dan akhirnya harus diberikan lem silicon supaya air tidak tembus. Ketika membuat lubang untuk sekrup, lubang harus lebih besar dari sekrup untuk menyediakan tempat bagi akrilik/polycarbonate memuai ketika kena matahari.
  • Solar sel sebaiknya dikelompokkan sehingga menghasilkan 21 volt pada saat puncak (ketika sinar matahari tidak terhalang apapun). Berdasarkan proses tes tersebut diatas, ketika cuaca mendung, solar panel masih menghasilkan listrik yang cukup untuk mengisi aki.
  • Kabel-kabel yang digunakan harus cukup besar, sesuai dengan perhitungan. Shanti menggunakan kabel berukuran AWG 2 (luas penampangnya 35mm2) untuk menghubungkan solar panel dan kontroler. Kabel ini berukuran besar, cukup sulit untuk memotongnya. Ternyata konektor pada kontroler tidak dapat menerima kabel ini karena terlalu besar, sehingga akhirnya menggunakan sekring untuk mengecilkan kabel. 
  • Konektor kabel dapat menggunakan berbagai macam konektor, tetapi harus diperhatikan arus yang mampu diteruskan oleh konektor yang digunakan. Untuk menyatukan kabel yang berbeda ukurannya, akan jauh lebih baik menggunakan terminal blok. Terminal blok tersedia dalam berbagai jenis dan ukuran, harus memilih sesuai dengan ukuran kabel yang digunakan.
  • Sekring sebaiknya digunakan secukupnya, pada berbagai macam jalur kabel. Sekring juga tersedia dalam berbagai jenis dan ukuran. Harus dipilih sesuai dengan ukuran kabel, dan sekring yang digunakan harus berdasarkan besar arus yang akan melaluinya.
  • Untuk solar panel yang berukuran besar, solar sel akan dikelompokkan dan masing-masing menghasilkan 12/24 volt. Penggunaan diode scotchki pada masing-masing kelompok sangat dianjurkan, supaya ketika ada kelompok yang terkena bayangan atau tidak berfungsi, arus listrik tidak kembali ke solar sel.
  • Banyak dijual kabel yang berukuran banci. Maksudnya, ukuran sebenarnya lebih kecil dari yang tertera di kabel. Misalnya, ukuran kabel tertulis 35mm (AWG 2), tetapi ukuran sebenarnya adalah 25mm (AWG 4). Kabel ukuran 35mm yang sebenarnya, tidak bisa dipotong dengan tang biasa, perlu tang khusus yang lebih besar atau digergaji.
  • Kontroler tipe MPPT jauh lebih efektif untuk mengatur arus listrik, tetapi harganya lebih mahal. Sebagai perbandingan, kontroler tipe PWM dengan kapasitas 20 amper berharga sekitar Rp. 250.000,- sementara tipe MPPT dengan kapasitas sama berharga sekitar Rp. 2.000.000,-. Untuk solar panel yang berukuran cukup besar, seperti yang digunakan Shanti, sebaiknya menggunakan tipe MPPT karena masalah akan jauh lebih sedikit.
  • Untuk jarak antara kontroler dan beban yang cukup jauh, akan jauh lebih mudah bisa menggunakan inverter untuk merubah arus DC dari aki menjadi arus AC 220 v (seperti PLN). Sehingga kabel yang biasa dipakai pada instalasi listrik dirumah bisa digunakan, dan akan mengurangi biaya kabel.
  • Bila memakai inverter, sebaiknya menggunakan tipe pure sine wave, karena tipe modified sine wave akan lebih cepat panas. Mesin pompa air hanya bisa dinyalakan dengan inverter tipe pure sine wave. Kapasitas inverter yang digunakan juga harus diperhatikan, karena alat elektronik, seperti pompa air, akan membutuhkan listrik lebih besar pada saat baru dinyalakan.
  • Semua beban sebaiknya mengambil listrik dari kontroler, termasuk inverter. Cara ini akan menyebabkan pengontrolan arus yang lebih mudah. Tetapi, bila kapasitas kontroler kurang besar, ketika inverter digunakan untuk menyalakan beban pada saat awal, kontroler menjadi error (karena arus yang ditarik oleh inverter cukup besar). Bila hal ini terjadi, inverter bisa langsung dihubungkan ke aki tanpa melalui kontroler. Dampaknya, kontroler tidak bisa mengatur arus yang diambil oleh inverter.
  • Ketika inverter dalam posisi idle (tidak menyalakan alat elektronik), inverter tetap akan membutuhkan listrik dalam jumlah lebih kecil. Jumlah ini bergantung pada jenis, tipe, dan merek inverter. Pada tes yang dilakukan Shanti, dengan inverter 2.000 watt, listrik yang dibutuhkan adalah 0,9 ampere. Arus ini akan berlangsung terus menerus selama inverter dalam posisi idle, sehingga harus dimasukkan kedalam perhitungan rancangan solar system.
  • Automatic transfer switch dibutuhkan bila akan menggabungkan listrik dari inverter dan listrik PLN. Ketika aki masih cukup kuat, maka switch akan otomatis mengambil listrik dari inverter. Ketika aki habis atau diberi timer, switch akan mengambil listrik PLN. Dengan cara ini, maka alat elektronik akan selalu dapat digunakan.
  • Shanti mencoba menghubungkan pompa air, dan bekerja dengan baik. Walaupun begitu, pompa air hanya bisa dinyalakan ketika sinar matahari tidak terhalang awan, karena pompa air yang dicoba membutuhkan listrik sekitar 700 watt sehingga  membutuhkan arus cukup besar dari aki.
  • Salah satu alternative untuk solar panel yang berukuran besar, disusun untuk menghasilkan 30+ volt (sistim 24 volt) karena ukuran kabel yang digunakan akan lebih kecil untuk jarak yang jauh. Cara ini berguna bila tidak menggunakan inverter, sehingga semua arus yang digunakan adalah DC. Bila menggunakan inverter, aki 12 volt tidak bermasalah karena arus ke beban menggunakan AC (seperti PLN) dan dapat menggunakan kabel biasa.
  • Walaupun begitu, sangat sulit untuk menemukan aki 24 volt dipasaran. 2 aki 12 volt yang dihubungkan secara serial dapat digunakan. Kontroler yang tersedia dipasaran biasanya secara otomatis akan mengetahui aki yang digunakan 12 atau 24 volt. Ingat, pasang terlebih dahulu kabel ke aki (supaya kontroler dapat mengetahui apakah aki yang digunakan 12 atau 24 volt), lalu disusul dengan kabel dari solar panel.

Pada kontroler tipe MPPT, biasanya terdapat port/konektor untuk dihubungkan ke computer. Melalui computer, pengguna bisa mengatur kontroler dan juga dapat mengambil data. Shanti menggunakan merek Epever, dan pabrik ini menyediakan alat-alat yang dapat dibeli terpisah, juga software yang dibutuhkan. Sayangnya software hanya disediakan untuk OS Windows. Alat-alat yang dijual oleh pabrik ini sebetulnya lebih memudahkan karena hanya tinggal dihubungkan saja ke kontroler, tetapi harganya cukup mahal.

Port yang disediakan adalah port RS485 (menggunakan colokan RJ45, atau biasa dikenal dengan kabel LAN). Port ini dihubungkan dengan kabel ke computer, sehingga membutuhkan kabel RS485 – USB. Kabel ini sudah termasuk dengan chip converter didalamnya.

Shanti akan mencoba menggunakan raspberry pi yang sudah dimiliki, untuk mengambil data dari kontroler dan semoga bisa ditampilkan pada blog Shanti sehingga data bisa diakses dari lokasi lain dan dianalisa. Selain untuk mengambil data, port ini juga bisa digunakan untuk mengatur kontroler melalui computer dengan menggunakan software yang disediakan oleh Epever. Sayangnya software ini hanya bisa dijalankan pada OS windows, dan masih belum diketahui apakah dapat dijalankan pada Linux (Raspberry Pi).

<

Solar panel sudah
terpasang diatas tiang

Arus listrik sudah masuk
dari solar panel

Rangkaian peralatan
sebelum dirapihkan

Lokasi konektor/port RS485




Minggu, 05 April 2020

Workshop perakitan solar panel yg agak besar

Tanggal 15-20 Maret 2020, Shanti pergi ke Desa Ngarak, Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak, Kalimantan barat untuk memberikan pelatihan pembuatan lampu solar Panel ukuran besar.
Ini adalah pelatihan ke 2 di tempat tersebut setelah pada tahun lalu, Shanti melatih mereka membuat lampu ukuran kecil untuk keperluan penerangan dalam rumah, pergi ke kebun maupun aktivitas lainnya.

Tim berkoordinasi dengan IP3 sebagai koordinator kegiatan. Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan tambahan pengetahuan dan skill kepada peserta (khusunya peserta yang pernah dilatih terdahulu) agar mampu merakit dan memperbaiki lampu solar panel sendiri, merakit yang lebih besar, bahkan bisa dijadikan sumber pendapatan dengan cara dijual kepada masyarakat yang membutuhkan. Aktivitas ini akan berhenti apabila tidak dilanjutkan dalam bentuk bisnis.

Kegiatan dilakukan selama 3 hari di lokasi PPMT (Pusat Pengendalian Misi Terpadu)  Ngarak. Dengan pengetahuan dan ketrampilan untuk merangkai sistim panel surya yang lebih besar, diharapkan peserta dapat memulai bisnis lampu surya secara berkelompok.

Saat pelatihan selesai, solar panel beserta lampunya sudah terpasang dan berfungsi. Yang dibutuhkan selanjutnya adalah perawatan terhadap solar panel dan lampunya. Dua peserta sudah mulai mengembangkan sendiri lampu sederhana versi pribadi.


Peserta sedang menyiapkan lampu

Lampu beserta reflektor buatan sendiri

Peserta menyiapkan dudukan panel

Peserta menyolder sel surya

Peserta memasang sel surya ke panel

Menyiapkan penutup panel surya

Merangkai kabel-kabel

panel surya dan box panel sudah siap

memasang panel surya ke atas tiang

Memasang tiang beserta panel surya ke pondasi

Keseluruhan sistim sudah
selesai dipasang

Sudah menyala otomatis
dimalam hari

Hasil kreasi peserta setelah workshop

Hasil kreasi peserta lain setelah workshop