Rabu, 09 Desember 2015

Informasi dalam penanggulangan bencana

Setiap kali memberikan respon kejadi bencana, ada banyak hal yang sebenarnya bisa diperbaiki diwaktu yang akan datang. Salah satunya adalah informasi yang akurat, cepat, dan mudah diakses oleh semua pihak.

Seperti kita ketahui, manusia tidak dapat hidup lama bila kondisi lingkungan (terjepit bangunan, tidak ada makanan, dll) dan kondisi tubuhnya (patah tulang terbuka, luka yang mengucurkan darah terus menerus, dll) tidak mendukung. Sehingga informasi sangat penting untuk mendukung tindakan/pertolongan yang cepat.

Penyebaran informasi ini sangat berkaitan dengan sistim komunikasi yang digunakan. Ketika sarana komunikasi normal (sinyal telpon genggam, email, SMS, BBM) hilang saat terjadi bencana, komunikasi dapat dilakukan dengan telpon satelit. Tetapi harga peralatan dan pulsa telpon jenis ini sangat mahal, yang tidak bisa dibeli oleh semua organisasi/perorangan. Alternatif paling murah adalah dengan menggunakan radio komunikasi 2 arah, atau lebih dikenal dengan Handy Talky atau Rig.

Untuk manajemen aktivitas lapangan penanggulangan bencana, radio komunikasi saja tidaklah cukup. Pusat pengendalian operasi dari masing-masing organisasi seringkali kewalahan karena sulit untuk mengetahui posisi masing-masing tim secara pasti dan langsung. Demikian juga dengan koordinasi antar organisasi. Akhirnya, pertukaran informasi hanya terjadi selama pertemuan koordinasi, yang biasanya dilakukan pada malam/pagi hari. Sehingga informasi yang disebarkan bukanlah informasi terkini.

Dari sisi korban bencana, sangat sulit untuk mencari informasi tentang keluarga yang hilang ataupun menjadi korban. Selama ini penyebaran informasi dilakukan secara manual, misalnya dengan menulis nama korban di papan pengumuman, daftar nama pasien di rumah sakit, dll. Sehingga untuk mencari informasi, korban harus berkeliling sendiri ke tempat-tempat yang menyediakan pengumuman. Hal ini sangat melelahkan dan memerlukan waktu yang banyak bagi korban bencana yang masih hidup untuk mencari keberadaan keluarganya yang lain.

Kami mencoba mencari alternatif solusi yang murah dan cukup handal untuk digunakan ketika terjadi bencana. Beberapa alternatif itu adalah:
  1. Pemetaan informasi menggunakan Crowdmap.
    Sistim ini menggunakan fasilitas gratis yang disediakan oleh Ushahidi.
    Dengan fasilitas ini, informasi-informasi yang terkumpul dapat ditentukan lokasinya, yang lalu ditampilkan pada peta. Setelah itu, analisa dapat dilakukan berdasarkan hasil pemetaan informasi yang didapatkan.

    Fasilitas ini hanya dapat digunakan ketika internet masih berfungsi. Contoh aplikasi penggunaannya dapat dilihat pada: https://bencana.crowdmap.com/
  2. Contoh tampilan crowdmap
  3. Sistim Informasi Organisasi pemberi bantuan.
    Sistim ini menggunakan software komputer gratis yang disediakan oleh Sahana Foundation, yang bisa digunakan bagi banyak komputer. Semua komputer tersebut akan saling terhubung, sehingga informasi yang dimasukkan dari sebuah komputer akan langsung dapat diakses oleh komputer lainnya.

    Untuk menggunakan sistim ini, diperlukan koneksi data yang menggunakan internet. Ketika fasilitas internet tidak berfungsi, pertukaran data dapat dilakukan dengan menggunakan flash drive (artinya pertukaran informasi harus menunggu pertukaran flash drive, tidak dapat dilakukan secara langsung). Demo fungsi software ini dapat dilihat di: https://demo-amarylis.rhcloud.com/Eden
  4. Contoh tampilan Sahana
  5. Sistim Registrasi Korban
    Sistim ini adalah perbaikan dari sistim manual yang selama ini dikerjakan di lapangan untuk mencatat korban bencana. HP android dapat digunakan sebagai alat untuk mencatat dan mengirimkan data kepada sebuah server, dan data ini dapat dilihat oleh base camp (menggunakan komputer dan internet) dan juga pada HP android lainnya.

    Sehingga pengambilan data dapat dilakukan dengan cepat, data dari lapangan dapat langsung dikirim ke base camp saat itu juga. Bila diperlukan data tersebut dapat juga langsung diakses oleh orang lain yang membutuhkan informasi.

    Untuk mencoba, silahkan gunakan HP android anda, buka google playstore, dan ambil app bernama ‘Commcare ODK v2’. Install seperti biasa. Lalu buka app tersebut, dan gunakan:
    -    URL: http://bit.ly/1p9rr83
    -    User name: try
    -    password: 123
  6. contoh Screen shot Commcare

  7. Sistim Pemetaan Informasi
    Pemetaan dapat dilakukan oleh banyak jenis software, tetapi tidak semuanya dapat digunakan untuk pemetaan secara langsung/live. Salah satu Software yang menyediakan fasilitas ini adalah Sartrack (http://www.sartrack.co.nz/), yang dibuat oleh Bart Kindt.

    Pada dasarnya, software ini menggunakan sistim APRS (Automatic Packet Reporting System, ditemukan oleh Brob Bruninga (callsign WB4APR) pada sekitar tahun 1980an) untuk pertukaran data lokasi. Sartrack juga menyediakan fitur untuk menggunakan Pelacak satelit, AIS (Automatic Identification System, yang digunakan pada transportasi laut), dll.

    Selain data lokasi, Sartrack juga menyediakan fasilitas pencatatan kejadian. Misalnya, dilaporkan ada korban di sebuah lokasi oleh petugas lapangan, maka operator Sartrack dapat mencatat pelapor, lokasi, kondisi korban, pertolongan yanag dibutuhkan, dan apakah merupakan prioritas. Informasi ini akan disebarkan ke komputer lain, termasuk pada organisasi-organisasi lain, pada saat bersamaan. Bila sebuah organisasi memutuskan akan memberikan pertolongan, operatornya (pada organisasi tersebut) dapat memberikan catatan bahwa mereka yang akan menolong, sehingga organisasi lain dapat membantu korban lainnya. Dan setelah selesai ditolong, operator dapat memberikan tanda bahwa pekerjaan tersebut telah selesai dilakukan.
  8. Contoh tampilan Sartrack
Informasi yang lebih lengkap dapat dilihat di http://goo.gl/jCnKiH
Kami sedang berusaha untuk membuat jaringan, sehingga banyak organisasi yang dapat menggunakan berbagai fasilitas tersebut, dan akhirnya arus informasi pada saat penanggulangan bencana dapat berjalan dengan lebih  baik.

Bila organisasi anda tertarik untuk menggunakan dan membutuhkan bantuan, kami dengan senang hati akan membantu.

Rabu, 02 Desember 2015

Program Air Bersih di Palue

Setelah melakukan assessment dan diskusi insternal, maka Shanti memutuskan untuk mencoba membantu masyarakat di pulau Palue dengan menyediakan peralatan untuk menyaring air laut menjadi air bersih. Rencana ini muncul dari kerjasama antara Shanti dan Paroki Uwa.

Peralatan ini berharga cukup mahal, sehingga Shanti harus lebih jeli dalam menyiapkan masyarakat. Peralatan ini nanti akan dikelola dan dipelihara oleh kelompok masyarakat setempat.

Sehubungan dengan rencana tersebut, maka sebuah pertemuan diadakan di kantor desa Reruwairere pada tanggal 12 November 2015. Pertemuan ini dihadiri oleh Pastor Lexi-pastor paroki Uwa, Bp. Afelinus - Kepala Desa Reruwairere, Bp Jhon Liem dan dr. Andre Tanoe yang mewakili Shanti, beserta beberapa perangkat desa lainnya.
Pertemuan ini membicarakan rencana program air bersih bagi pulau Palue, walaupun alat desalinasi berada di desa Reruwairere, tetapi seluruh masyarakat Palue dapat menikmatinya. Beberapa kesepakatan yang disetujui bersama dalam pertemuan tersebut adalah sebagai berikut:
  • Pemilihan desa Reruwairere diputuskan bersama oleh Paroki Uwa dan Shanti, serta kesediaan kepala desa untuk menyediakan lahan yang dibutuhkan.
  • Shanti akan menyediakan peralatan desalinasi, menyediakan tehnisi untuk pemasangan, hingga alat tersebut berfungsi. Kapasitas alat ini adalah sekitar 900 liter / jam.
  • Shanti akan memberikan pelatihan bagi beberapa orang yang akan menggunakan dan merawat alat tersebut
  • Pihak Desa Reruwairere akan menyediakan lahan serta bangunan yang dibutuhkan. Luas bangunan utama yang diperlukan untuk pemasangan alat desalinasi berukuran minimal 3x2 meter. Diluar itu, dibutuhkan tempat untuk menyimpan beberapa buah tangki fiber berukuran sekitar 5.000 liter, dan untuk generator. Tangki fiber dapat diletakkan diluar ruangan (sebaiknya beralas semen), tetapi akan membutuhkan perlindungan dari sinar matahari (atap daun juga bisa digunakan).
  • Pihak desa Reruwairere akan menyediakan tenaga untuk membantu proses pemasangan alat desalinasi hingga selesai. Diharapkan tenaga ini adalah orang-orang yang akan mengelola peralatan.
  • Alat desalinasi memerlukan listrik sekitar 6.000 watt. Terdapat generator bekas kegiatan PNPM yang sudah tidak dipakai, tetapi proses pengalihan akan sulit. Sehingga Shanti akan menyediakan generator ini.
  • Untuk menjalankan alat, akan dibutuhkan bahan bakar untuk menyalakan generator. Bahan bakar akan disediakan oleh kelompok yang mengelola peralatan desalinasi.
  • Pihak Desa Reruwairere bersama paroki Uwa akan menentukan personel yang akan mengelola peralatan desalinasi. Oleh karena kegiatan ini dimulai dari kerjasama antara Shanti dan Paroki Uwa, dan juga karena Shanti tidak dapat berada terus menerus di pulau Palue, maka kami ingin paroki Uwa dapat melakukan fungsi supervisi mewakili Shanti.
  • Air bersih yang dihasilkan tidak dapat diberikan gratis kepada masyarakat karena akan dibutuhkan biaya untuk merawat peralatan. Besarnya harga jual air bersih ini akan ditentukan bersama antara pengelola yang ditunjuk, kepala desa Reruwairere, dan Paroki Uwa, dengan memperhatikan kemampuan masyarakat.
  • Pihak desa Reruwairere beserta paroki Uwa, akan mengirimkan informasi tentang susunan pengelola peralatan desalinasi dan harga jual air bersih kepada Shanti sebelum April 2016.
  • Pengelola peralatan desalinasi akan bertanggung jawab dalam hal penggunaan, perawatan, deteksi kerusakan, penggantian alat yang rusak, pengumpulan dan penyimpanan hasil penjualan air bersih. Kelompok pengelola akan melaporkan perkembangannya secara rutin dan tertulis kepada kepala desa Reruwairere dan paroki Uwa.
  • Shanti akan berkunjung ke pulau Palue setelah musim angin barat selesai, diperkirakan setelah April tahun 2016.
  • Seandainya diwaktu yang akan datang, peralatan desalinasi ini tidak berfungsi oleh sebab apapun, maka Shanti akan menarik semua peralatan dari pulau Palue dan menggunakannya di daerah lain yang membutuhkan..
  • Draft desain penempatan peralatan dapat dilihat pada gambar dibawah. Perlu diingat bahwa desain ini BELUM FINAL, artinya masih berupa perkiraan dan MASIH DAPAT BERUBAH. Kepastian desain akan ditentukan kira-kira pada bulan januari 2016.
Desain dibawah ini diperuntukkan bagi lokasi ditepi pantai yang telah ditunjukkan oleh Kepala Desa Reruwairere setelah pertemuan selesai.


Denah rencana

Minggu, 18 Oktober 2015

Assessment ke Pulau Palue, Sikka

Pada tanggal 25 September – 3 Oktober, Shanti berkunjung ke pulau palue di kabupaten sikka. Shanti mencoba mengumpulkan data dari pihak-pihak lain, seperti dinas peternakan kab sikka, Caritas maumere, dan beberapa orang pastor setempat, sebelum berangkat ke Palue. Shanti juga membawa beberapa lampu solar cell dan penyaring air untuk diperkenalkan kepada pihak-pihak di sikka.

Masyarakat Palue ramah dan terbuka kepada pendatang baru. Kami tidak mengalami kesulitan untuk berdiskusi dan melihat-lihat situasi. Romo Lexi sangat membantu dalam merencanakan perjalanan, pak Charles sangat membantu kami selama berkeliling di pulau Palue. Laporan lengkap akan dibuat terpisah.

Ringkasan informasi yang didapatkan adalah sebagai berikut:
Listrik
  • Kebanyakan masyarakat Palue menggunakan generator untuk mendapatkan listrik. Generator ini hanya dinyalakan ketika malam hari, untuk beberapa jam saja.
  • Menurut informasi dari semua pihak, masih banyak rumah masyarakat yang tidak memiliki listrik karena tidak dapat membeli generator, atau tidak mau/mampu membayaran iuran bersama, ataupun karena generator sudah rusak.
  • Kami melihat rata-rata rumah sudah memiliki kabel listrik, tetapi menurut masyarakat, tidak ada listrik yang mengalir karena generator tidak bekerja.
  • Pernah ada bantuan dari Ausaid, berupa solar panel yang cukup besar, sekitar 100 watt, tetapi saat ini sudah tidak berfungsi, kecuali yang berada di rumah pak Charles. Pada saat itu, paket yang diberikan berisi solar panel, regulator, aki, dan beberapa lampu neon. Panel surya masih ada yang disimpan oleh penduduk. Aki dapat dikatakan sudah tidak ada lagi. Lampu neon yang masih menyala ditemukan dirumah pak Charles.
  • Pedagang yang menggunakan perahu sering datang ke Palue, dan menjual beragam lampu yang menggunakan solar panel kecil. Harga lampu sekitar Rp. 400.000,- - Rp. 600.000,- dan masyarakat bisa membelinya dengan cara barter dengan sarung tenun. Rata-rata semua rumah paling tidak sudah memiliki salah satu/lebih jenis lampu ini.
  • PNPM pernah mempunyai program untuk pengadaan generator kepada desa, beserta jalur kabelnya. Tetapi, walaupun saat ini kabel masih terpasang pada rumah-rumah, tidak ada listrik, karena menurut kepala desa, sulit untuk menagih pembayaran kepada masyarakat. Oleh karena tidak ada uang kas, maka tidak bisa membeli bahan bakar, dan generator sekarang sudah tidak berfungsi lagi.
  • Seorang penduduk, bernama pak willem, dikenal bisa membetulkan generator yang rusak.
  • Bahan bakar generator dibeli dari Maumere, dengan harga bervariasi antara Rp. 7.000 – 20.000.


Air bersih
  • Tidak ada mata air ataupun sungai di pulau Palue.
  • Masyarakat mengandalkan air hujan sebagai sumber air bersih. Cukup banyak rumah yang memiliki bak penampung dari semen ataupun fiber. Tetapi hanya sedikit masyarakat yang memiliki bak penampung berukuran besar, sehingga persediaan air tidak cukup untuk kebutuhan jangka waktu lama, dan ketika musim kemarau, masyarakat kesulitan untuk mendapatkan air bersih.
  • Terdapat beberapa sumur warga (sumur gali), air jernih, tetapi tidak semua mengandung air tawar. Apabila terpaksa, maka sumur-sumur ini menjadi sumber air bersih untuk semua keperluan rumah tangga.
  • Tanah di beberapa wilayah didekat gunung Rokatenda, mengeluarkan uap air. Penduduk memanfaatkan uap air ini dengan membuat alat suling sederhana menggunakan bambu. Debit air yang dihasilkan tidak banyak, 1 jerigen memerlukan waktu 1 hari 1 malam. Ketika dicoba diminum, air ini tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak mempunyai rasa. Sehingga sekilas kelihatannya memenuhi syarat untuk air minum. Belum ada yang pernah membawa contoh air untuk diperiksa di laboratorium.
  • Beberapa penduduk, termasuk Paroki, juga membeli air minum gallon dari maumere. Transportasi dari dan ke Palue hanya tersedia dengan perahu sederhana terbuat dari kayu dengan waktu tempuh sekitar 4-5 jam dari Maumere, dan mempunyai jadwal 3 kali seminggu. Tersedia juga perahu perintis yang berukuran lebih besar dan terbuat dari besi, tetapi hanya berfungsi dengan jadwal terbatas. Alternatif lain adalah dengan menggunakan perahu nelayan dari Ropa (di daerah kab ende) untuk menyebrang menuju Palue. Tetapi jarak tempuh Maumere – Ropa membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam dengan jalan berliku-liku. Alternatif lain lagi adalah menggunakan speedboat milik beberapa pihak di Maumere, yang dapat mencapai Pulau Palue dalam waktu sekitar 1 jam, tetapi membutuhkan biaya yang lebih besar.
  • Satu buah alat filter yang berasal dari dinas PU, berada di dekat paroki Uwa. Alat ini sudah dipergunakan cukup lama, menyaring air sumur yang asin menjadi air tawar. Pada saat kami berkunjung, alat ini tidak berfungsi karena sistim listriknya tidak berfungsi dan masih menunggu untuk diperbaiki. Menurut ibu penjaganya, pada saat baru, alat ini bisa menyaring sekitar 20 galon (sekitar 400 liter) air selama 1 hari. Saat ini kapasitas alat tersebut sudah sangat mengecil, dan harus menghubungi bandung untuk perbaikan. Untuk mendatangkan petugas dari bandung, masyarakat/desa harus menyediakan transportasi dll.
  • Kepala desa Reruwairere bisa menyediakan lahan untuk lokasi alat filter air laut. Walaupun begitu, persetujuan dari tokoh adat/desa dibutuhkan untuk proses ini.
  • Banyak lokasi desa terletak jauh dari pantai, sehingga ongkos ojek untuk membawa air akan lebih mahal dari harga airnya sendiri. Salah satu alternative adalah menggunakan sepeda motor roda tiga, yang bisa mengangkut beberapa gallon/tanki air. Masih belum diketahui apakah sepeda motor roda tiga ini mampu digunakan di daerah pegunungan, karena jalan menuju lokasi-lokasi tersebut cukup terjal.
  • Masyarakat menyanyakan apakah ada cara untuk mengubah air hujan menjadi air minum. Ketika musim hujan, masyarakat tidak dapat memasak air untuk air minum karena semua kayu menjadi basah.
  • Pak Charles memberikan informasi bahwa beberapa waktu yang lalu, ada kelompok yang berkunjung ke Palue dan memberitahukan terdapat beberapa air sungai bawah tanah yang mengalir dibawah pulau Palue. Titik paling dekat dengan permukaan tanah berada pada koordinat S08.30011 E121.72254, dengan kedalaman beberapa puluh meter. Belum pernah ada yang mencobanya, dan tidak diketahui bagaimana pengaruhnya pada gunung Rokatenda bila dicoba dibuat sumur bor dalam.

Lainnya
  • Hasil pertanian dari pulau Palue cukup banyak. Tetapi hanya dijual di maumere sebagai bahan mentah. Beberapa hasil utama dari pulau Palue adalah kopra, jambu mete, ubi, serta pisang. Air kelapa, batok kelapa, sabut kelapa belum dimanfaatkan secara maksimal. Buah jambu mete biasanya dibuang atau digunakan sebagai makanan babi peliharaan. Menurut informasi masyarakat, jumlah buah yang dibiarkan busuk cukup banyak jumlahnya, termasuk didalamnya adalah buah jambu mete.
  • Universitas Indonesia pernah mengadakan KKN di pulau Palue, dan mengajarkan mengolah kelapa menjadi minyak. Beberapa masyarakat sudah melakukannya, tetapi terbatas hanya untuk keperluan rumah tangga.
  • Masyarakat tertarik sekali dengan pelatihan-pelatihan, misalnya membuat gula merah dari kelapa, yang dapat meningkatkan penghasilan mereka.
  • Kami menghibahkan 2 buah lampu kecil bersolar panel kepada Romo Lexi dan pak Charles untuk dicoba dan ditunjukkan kepada masyarakat serta warung sekitar. Kelihatannya Romo maupun pak Charles sangat antusias terhadap fungsi kedua lampu tersebut, juga terhadap harganya.
  • Ketika berkunjung ke desa Lei, diberitahukan ada sebuah SD yang membutuhkan bantuan perbaikan. SD ini masih berhubungan dengan keuskupan Maumere. Oleh karena kami tidak bekerja di bidang infrastruktur, maka kami memberikan informasi ini kepada Caritas Maumere, mungkin mereka bisa membantu.
  • Selama berkunjung ke Palue, kami melihat cukup banyak penduduk yang memanfaatkan radio komunikasi. Salah satu penduduk, pak Charles, merupakan anggota Orari dengan call sign YD9CHS. Kami juga mencoba berkomunikasi dari perahu, dan masih bisa berkomunikasi dengan palue dari jarak + 20km dari pulau. Menurut pak Charles, mereka bisa berkomunikasi dengan maumere melalui repeater milik PMI.
Berdasarkan semua temuan-temuan yang kami dapatkan selama kunjungan, maka kami akan berdiskusi internal dan memutuskan apa yang dapat kami lakukan untuk membantu masyarakat di pulau Palue. Semua kemungkinan masih terbuka, termasuk bekerjasama dengan LSM lain, seperti Kopernik dan Caritas Maumere.



Suasana pantai/dermaga Palue

Perahu Maumere - Palue

Suasana didalam perahu

Kunjungan ke kecamatan Palue

Ngobrol dg warga desa

Filter air payau yg sudah ada

Menyuling uap air dari tanah

Beberapa jenis lampu bersolar panel


Menenun tradisional

Tangki fiber yang banyak dimiliki warga



Kamis, 17 September 2015

Seminar Evaluasi Metode Realist

Pada tanggal 9 - 14 September 2015, Shanti mendapatkan undangan dari Universitas Charles Darwin, australia, untuk mengikuti workshop tentang penggunaan metode Realist dalam melakukan evaluasi.

Seperti yang telah kita ketahui, semua metode evaluasi memiliki keuntungan dan kerugiannya masing-masing. Tidak ada metode yang sempurna. Metode realist merupakan salah satu metode untuk melakukan evaluasi program. Metode ini ditemukan oleh Nick Tilley dan Ray Pawson, dan mulai dicoba oleh beberapa pihak, termasuk didalamnya LSM. Metode ini merupakan metode kualitatif, salah satu cara untuk melakukan analisa sosial, dan dapat dikombinasikan dengan metode lainnya, termasuk metode kuantitatif.

Seperti kita semua ketahui juga, realitas yang terjadi dilapangan adalah tidak beraturan dan sangat rumit. Contohnya, mengapa sebuah program berhasil di sebuah lokasi, sementara program yang persis sama tidak berhasil ditempat lain. Keinginan metode ini adalah menjelaskan realitas yang terjadi dilapangan, Mengapa dan Bagaimana sebuah program berhasil atau gagal di sebuah situasi.

Hasilnya tentu saja membantu kita semua untuk belajar tentang penyebab keberhasilan dan kegagalan di sebuah situasi. Bila pembelajaran ini diterapkan di situasi/lokasi yang berbeda, apakah akan pasti berhasil? Belum tentu, karena setiap situasi/lokasi mempunyai keunikannya sendiri. Walaupun begitu, akan sangat membantu pelaksana/perencana program untuk terus melakukan perbaikan bagi program yang akan dating, baik di lokasi yang sama ataupun berbeda.

Informasi lebih lengkap tentang metode ini dapat diunduh dari sini.

Senin, 07 September 2015

Biogas di desa Jelat, Ciamis

Salah satu warga desa Jelat menanyakan kemungkinan untuk membantu mereka menyelesaikan masalah tentang limbah pabrik tahu yang dibuang ke sungai.
Limbah ini menyebabkan masyarakat tidak bisa menggunakan air sungai untuk keperluan sehari-hari, misalnya untuk pengairan sawah, kolam ikan, dll.

Karena Yayasan Shanti belum berpengalaman di bidang limbah, Shanti mencoba mencari LSM yang bergerak dibidang solusi Limbah dan bertemu dengan Yayasan Rumah Energi. Yayasan Rumah Energi adalah LSM yang salah satu programnya adalah BIRU (Program Biogas Rumah).

Pada tanggal 25 Agustus 2015, dilakukan pertemuan antara Shanti, Yayasan rumah energi, para pengrajin tahu, dan perangkat Desa. Juga dilakukan kunjungan bersama ke beberapa pabrik tahu.

Beberapa kesepakatan dibentuk pada hari tersebut:
  1. Penanganan limbahnya dulu yaitu bagaimana air limbah bisa menjadi sebening mungkin dan bau tidak ada. Tentang penggunaan gas, bisa diberikan kepada lingkungan atau buat penerangan industri.
  2. Atas desakan masyarakat, pengrajin sudah siap dana untuk pembangunan pengolahan limbah, tinggal kapan dimulai waktunya.
  3. Karena subsidi dari BIRU hanya Rp.2.000.000,- maka sisanya sejumlah Rp.11.000.000 akan ditanggung pemilik industri dari total biaya pembangunan reaktor sejumlah Rp.13.000.000,-
  4. Hanya 1 pemilik industri yaitu pak Odo yang siap untuk pembangunan reaktor biogas, karena bu Tati keberatan atas biayanya.
  5. Bu Camat mencabut kembali kewajiban pak Odo untuk menyambung pipa paralon pembuangan air limbah sampai ke waduk, senilai Rp.35.000.000,-
Beberapa keterangan dan kondisi yang disampaikan BIRU apabila pengrajin dan aparat desa ingin dibangunkan reaktor oleh BIRU:
  1. Reaktor yang akan dibangun adalah skala rumah tangga dengan luas +12m3,  dengan kapasitas limah 300L/hr, kapasitas total bak 9600Lm dan kapasitas gas dalam kubah 2300m3.
  2. Reaktor yang dibuat tidak benar-benar 100% menyelesaikan masalah, jadi limbah tahu yang melalui proses baunya masih ada.
  3. Biogas yang dihasilkan limbah tahu tidak sebagus yang dihasilkan kotoran tataupun lampu, kompor akan diberikan gratis kepada pengrajin yang membangun reaktor sementara lampu biogas harus beli dan pesan harganya Rp.250.000,-, selain itu bisa untuk menyalakan genset tetapi genset harus dimodifikasi dahulu.
  4. Kekuatan bangunan reaktor adalah selama 20 tahun, perawatan akan dilakukan setahun sekali selama 2 tahun, pemilik reaktor dan pengrajin akan memberikan pelatihan gratis tentang cara pemeliharaan dan perawatan reaktor milik mereka, misalnya membersihkan pipa2 saluran dari sisa limbah, kalaupun ada kerusakan BIRU siap datang untuk membantu.
  5. Proses pengerjaan reaktor sbb:
  •  Pembuatan Layout lokasi terlebih dahulu
  • Penggalian (sudah termasuk biaya subsidi) 12m3 penggalian biasanya 4 hari.
  • Pembangunan reaktor selesai + 10 hari sesudah penggalian selesai.
  • Lama pembangunan reaktor kapasitas 12m3, + 2 minggu.
Ketika laporan ini ditulis, pekerjaaan sudah dilakukan, reaktor biogas hampir selesai.

Untuk tindakan selanjutnya, Shanti bersama yayasan rumah energy akan terus berkoordinasi sejak pembuatan layout reactor biogas hingga reactor tersebut selesai dan berfungsi. 1 buah Reaktor di tempat pak Odo akan menjadi proyek contoh bagi pemda setempat.

Informasi lebih lengkap tentang biogas dari limbah tahu dapat dilihat disini.

Salah satu pabrik tahu
Pertemuan di balai desa





Jumat, 07 Agustus 2015

Pelatihan Manajemen Koperasi

Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI) sebagai jaringan nasional Pekerja Seks yang bergerak dalam penanggulangan HIV serta fokus pada HAM dan Pekerja Seks, membentuk suatu kelompok usaha yaitu Koperasi yang diberi nama Koperasi Opsi Mandiri.

Pada tanggal 4-7 Juli 2015, Shanti memberikan bimbingan kepada Koperasi Opsi Mandiri di Jakarta pusat. Proses pelatihan tentang Koperasi Opsi yang anggotanya adalah PS ini berjalan dengan banyak diskusi dan keterlibatan peserta untuk mempersiapkan kepengurusan Koperasi, peserta sepakat dengan sistim musyawarah mufakat dalam menyelesaikan permasalahan dalam diskusi pelatihan ini.

Hingga saat ini, Shanti berkomitmen untuk tetap memberikan bimbingan kepada koperasi Opsi Mandiri.


Presentasi fasilitator



Diskusi kelompok



Presentasi kelompok


Peserta pelatihan



Selasa, 09 Juni 2015

Pembuatan Peta

Bagi orang-orang yang sering bepergian ke luar kota, terutama di daerah-daerah terpencil, peta merupakan salah satu komponen yang penting untuk dimiliki. Tidak tersedianya peta yang cukup baik akan mempersulit perjalanan, atau mungkin akan menyebabkan kita tersesat.

Bertanya kepada penduduk setempat kadang-kadang sulit apabila jarang terdapat rumah penduduk di jalan yang kita lewati. Tingkat kesulitan akan meningkat ketika harus bergerak dengan cepat dalam kegiatan penanggulangan bencana.

Berdasarkan pengalaman di lapangan, tidak mudah mendapatkan peta yang cukup baik. Sehingga alternatif terbaik yang ada adalah membuat peta sendiri. Dengan berbekal GPS seadanya, setiap orang sebetulnya dapat membuat peta sendiri.

Walaupun tidak mempunyai latar belakang pendidikan di bidang pemetaan, personel shanti sudah sering membuat peta-peta kota yang terpencil, diantaranya adalah peta pulau nias, kota wamena, Sikka dan NTT. Produk yang terakhir adalah peta kota Agats (kabupaten Asmat, Propinsi Papua) dan sekitarnya.

Peta kota Agats


Peta ini dapat dinikmati oleh umum di Openstreetmap.org ataupun situs navigasi.net. Peta pada Openstreet map dapat diunduh dalam bentuk shape file, sedangkan peta pada navigasi.net dapat diunduh dan langsung dipasang pada GPS (tertentu) anda.

Tentu saja personel shanti akan tetap melakukan perbaikan-perbaikan dan penambahan detail peta di waktu yang akan datang.

Have fun, and enjoy the map.

Kamis, 07 Mei 2015

Pelatihan di Agats, Kabupaten Asmat

Pelatihan ini dimulai dengan pertemuan antara kami dengan PPKA (Panitia Peduli Keuskupan Agats) pada tahun 2014. Pada saat tersebut, PPKA memerlukan bantuan untuk program kesehatan di kabupaten Asmat.

Setelah kami menyelesaikan survey awal, merancang kegiatan, maka pada tanggal 13 - 25 April 2015 kami memberikan beberapa pelatihan di Agats. Pelatihan ini terlaksana atas kerjasama antara PPKA sebagai penyandang dana, Keuskupan Agats sebagai koordinator di lapangan, dan Yayasan Shanti sebagai pelatih.

Yang terlibat selama persiapan pelatihan ini adalah:
  • Pater Alexander Ardhiyoga dari keuskupan Agats, yang juga sempat menunggu tengah malam di pelabuhan untuk menjemput kiriman barang dari Jakarta.
  • Pak Richard dari bagian penyakit menular dinas kesehatan kabupaten Asmat
  • dr. Stephen Langi dari bagian pelayanan kesehatan dinas kesehatan kabupaten Asmat.
  • Bp. Hariadi Widiarta dari PPKA.
  • Nn. Yeni Kristanti, staf  PPKA yang berada di Agats. Yeni akhirnya menjadi tumpuan kami untuk berhubungan dan berkoordinasi dengan berbagai pihak di Agats. Hampir semua persiapan dikerjakan oleh Yeni.
  • Bp Daniel Wijaya rekan-rekan yang lain sangat membantu proses pengiriman dan penerimaan barang-barang ini.
  • Bp Jumasman (YD9SWQ), Bp Richard Robert Effruan (YD9SWS), Bp. Nasaruddin Idris (YD9SWT), Bp. M. Muzamil (YD9WDQ), Bp. Alosius Aitan (YD9SWC), Bp. Ridwan Baun (YD9WJB) dari Orari Agats yang membantu koordinasi persiapan pelatihan.


Pelatihan yang diberikan adalah tentang:
- Penyakit menular, pencegahan-penularan-deteksi dini-tanda bahaya
- Pembuatan antenna VHF sederhana
- APRS (Automatic Package Reporting System)
- Filter air sederhana
- Database sederhana



Pelatihan penyakit menular

Pembuatan antena

Mengukur SWR Antena buatan sendiri

Antena yang sudah selesai

Setting IGate di rumah YD9SWQ

Filter air sederhana

Suasana penghitungan barang


Salah satu pelatih terlantar di airport

Pelatih lainnya sedang "ngawan"
(istilah di asmat)





Selasa, 31 Maret 2015

Membantu BPBD Bojonegoro menyiapkan sistim peringatan dini

APRS (Automatic Packet Reporting System) adalah sebuah sistim pertukaran data yang menggunakan sarana radio komunikasi. Sistim ini bukanlah sesuatu yang baru, dan sudah dipakai oleh komunitas pengguna radio komunikasi sejak lama. Sistim ini dipilih oleh Shanti karena murah dan mudah perawatannya, dibandingkan dengan sistim lainnya.

Shanti membantu BPBD Bojonegoro untuk menyiapkan IGate, 2 buah tracker, dan 1 buah sensor ketinggian air sungai. Peralatan tersebut semuanya dihibahkan oleh Shanti, dengan catatan, apabila tidak terpakai di Bojonegoro, semuanya akan dikembalikan kepada Shanti.

Bimbingan sudah diberikan beberapa kali, tetapi mereka meminta untuk memberikan pendalaman. Sehingga, Shanti memberikan bimbingan untuk kesekian kalinya pada tanggal 2 – 6 Maret 2015.

Bimbingan diberikan kepada BPBD Bojonegoro, Idfos, Phospora, dan FPBI. Materi yang diberikan adalah sejak dari awal penyiapan Raspberry Pi sebagai Igate, pengaturan tracker dan Sensor, serta desain pemasangan sensor. Berdasarkan kesepakatan bersama, sensor akan dipasang di sebuah jembatan di dekat kali kening.

Sayangnya waktu tidak mencukupi bagi Shanti untuk hadir hingga pemasangan sensor di tepi sungai. Sehingga pihak BPBD dan Idfos harus mengerjakannya sendiri. Hubungan antara Shanti dan pihak-pihak di Bojonegoro tidak berhenti disini, tetapi akan tetap berlangsung terus.

Situasi Pelatihan
Peserta pelatihan